Kelainan, Gangguan, dan Penyakit pada Sistem Saraf Manusia



Sistem saraf manusia dapat mengalami kelainan, penyakit maupun gangguan yang dapat mempengaruhi suatu kondisi kesehatan bagi yang mengalaminya. Berikut adalah rincian mengenai berbagai kondisi abnormal pada sistem saraf:
  1. Penyakit Paralisa Bell adalah penyakit yang terjadi pada otak akibat kelemahan unilateral wajah serta kelumpuhan. Penyakit ini diakibatkan oleh infeksi pada meningitis yang bermula dari infeksi dari telingga dalam. Teknologi terapi bagi penderita ini dapat menggunakan obat Orasone dan Kortikosteroid Oral. 
  2. Penyakit Alzheimer (Demensia persinelisadalah penyakit kemunduran mental (Demensia), disorientasi, gangguan bicara, dan gangguan kognitif. Penyebab penyakit ini belum diketahui dengan jelas, namun faktor yang menyebabkan penyakit ini adalah salah satunya kekurangan neurotransmiter di otak serta adanya plak beta amyloid. Penderita ini pada umumnya terjadi pada manula diatas 65 tahun. Teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit ini dengan cara terapi hiperbarik oksigen (pemberian tekanan oksigen) dengan tujuan agar oksigen di dalam otak dapat tersuplai. Penderita biasanya ditempatkan di ruang khusus sehingga dapat menghirup 100% oksigen. 
  3. Penyakit Ensefalitis adalah kondisi di mana otak mengalami infeksi serta mengalami pembengkakan otak. Penyebabnya dapat berupa virus yang dibawa oleh nyamuk atau serangga pengisap darah maupun virus gondong, HIV, herpes, dan adenovirus. Teknologi terapinya yakni dengan pemberian cairan dan elektrolit untuk menghindari dehidrasi dan pemberian antibiotik serta antivirus. 
  4. Hidrosefalus adalah kondisi cairan serebrospinal yang jumlahnya berlebihan sehingga cairan yang membasahi otak dan sumsum tulang belakang tersebut akan mengalami akumulasi di dalam ruang ventrikuler otak. Penyebab dari penyakit ini yakni adanya kelainan kerusakan aliran cairan pada serebrospinal serta kesalahan absorbsi. Teknologi terapinya dapat menggunakan dengan cara  pembedahan atau penyedotan cairan otak. 
  5. Epilepsi adalah kondisi otak yang menyebabkan penderita sensitif sehingga mengalami kejang berulang-ulang dan kejadian tersebut berlangsung mendadak yang berkaitan dengan adanya pelepasan kelistrikan saraf secara abnormal. Epilepsi dapat menyerang 1-2% populasi manusia yang diakibatkan oleh trauma kelahiran (kekurangan oksigen), infeksi meningitis, keracunan, tumor otak adan stroke. Teknologi terapi penyakit tersebut yakni dengan cara memberikan obat-obat khusus antiepilepsi seperti tegretol, dilatin, dan barbitural serta misoline. Pembedahan otak juga dapat dilakukan jika di bagian otak tersebut yang menjadi penyebab adanya epilepsi. 
  6. Penyakit Hungtington adalah penyakit genetik akibat degenarasi di bagian korteks serebral dan ganglia basal yang dapat menyebabkan gerakan-gerakan tidak sengaja, kemunduran mental dan demensia. Teknologi terapi penyakit ini belum ditemukan, selama ini hanya dapat diberikan obat penenang untuk membantu penderita dapat mengendalikan gerakan-gerakan kornea mata. 
  7. Radang Tulang belakang (Mielitis), suatu kondisi dimana tulang belakang meradang dikarenakan infeksi poliomyelitis, salah satu contoh bentuk infeksi pada tulang belakang pada bagian kelabu, sehingga saraf motorik tak dapat berfungsi. Sedangkan, apabila yang diserang bagian yang putih maka saraf sensorik tidak akan berfungsi. Teknologi terapinya dengan menggunakan terapi kortikostreroid.
  8. Multiple Sclerosis (MS) adalah penyakit progresif yang diakibatkan oleh kerusakan selubung saraf (mielin) di sel-sel putih otak dan sumsum tulang belakang. Ciri-ciri penyakit ini antara lain gangguan motork, menurunnya kemampuan kognitif, gangguan mental, dan cara bicara yang tidak jelas. Penyebab penyakit antara lain akibat infeksi virus Epstein-Barr dan autoimun.  Teknologi terapi yang dapat dilakukan yakni dengan pemberian obat yang mampu mengurangi gangguan neurologis dengan memberikan obat seperti orasone, ACTH (corticotropin), dan decadron.
  9. Meningitis adalah penyakit peradangan yang terjadi pada selaput pembungkus otak dan tulang belakang yang disebabkan oleh infeksi bakteri seperti  Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniaeListeria monocytogenes, dan Neisseria meningitidis. Salah satu teknologi terapinya dengan cara pemberian terapi antibiotik. Bagi penderita yang memiliki alergi dengan antibiotik dapat menggunakan glikosida cardiak. 
  10. Neuritis adalah iritasi pada neuron yang diakibatkan oleh infeksi, kurang vitamin, keracunan (seperti keracunan gas karbon monoksida dan logam berat), serta karena obat-obatan tertentu.
  11. Penyakit Parkinson adalah penyakit yang dapat menyebabkan kerapuhan pada otot secara progresif, kehilangan gerakan sadar (akinesia) serta mengalami tremor yang tidak sengaja. Penyakit ini diduga oleh rendahnya neurotransmiter dan dopamine. Teknologi terapi penyakit ini yakni dengan menganti dopamine dengan laropoda.
  12. Gegar Otak adalah kondisi akibat benturan mekanis seperti kecelakaan pada otak sehingga dapat menyebabkan gangguan fungsi otak. 

Bagian-bagian Otak dan Fungsinya pada Manusia TERLENGKAP

Berat otak manusia kurang lebih 2% dari berat badan orang dewasa. Sekitar 20% darah dipompa ke otak dari jantung dan menggunakan sekitar 20% pemakaian oksigen tubuh serta membutuhkan sekitar 400 kkal energi setiap harinya. Otak merupakan jaringan yang paling banyak memakai energi dalam seluruh tubuh manusia, terutama yang berasal dari proses metabolisme oksidasi glukosa. Jaringan otak sangat rentan akan kebutuhan akan oksigen dan gukosa melalui aliran darah. 

Aktivitas otak yang selalu bekerja ini berkaitan dengan fungsinya yang penting sebagai pusat sistem koordinasi organ-organ sensorik dan sistem efektor perifer tubuh serta fungsinya sebagai pengatur informasi yang masuk, menyimpan pengalaman, impuls yang keluar, dan tingkah laku. 

Otak terletak di dalam tulang tengkorak yang diselubungi oleh selaput meninges. Selaput meninges terdiri atas 3 lapisan, yaitu: duramater (lapisan terluar yang menempel pada tulang), arachnoid (lapisan tengah), dan piamater (lapisan paling dalam yang menempel pada sumsum otak).

Bagian-bagian otak manusia terdiri atas 4 macam, yaki otak besar (cerebrum), otak kecil (serebelum), otak tengah (mesencephalon), dan otak depan (diensefalon).



A. Cerebrum (Otak Besar) 

Cerebrum / otak besar adalah bagian otak yang berbentuk oval, ukurannya paling besar dan paling menonjol, dan terletak pada bagian depan atas tulang tengkorak. Disini terletak pusat-pusat saraf yang mengatur semua kegiatan sensonik dan motorik, mengatur proses penalaran ingatan, dan kecerdasan. Cerebrum dibagi menjadi dua hernisfer kanan dan hemisfer kiri oleh suatu lekuk atau celah dalam yang disebut fisura longitudinalis mayor. Bagian luar hemisfer serebri terdiri dari substansia grisea (abu-abu) yang disebut sebagai korteks serebri, terletak diatas substansia alba (putih) yang merupakan bagian dalam hemisfer dan dinamakan pusat medula.

substansia grisea (abu-abu) dan substansia alba (putih) pada otak


Kedua hemisfer saling dihubungkan oleh suatu pita serabut lebar disebut korpus kalosum. Di dalam substansia alba tertanam kelompok massa substansia grisea yang disebut ganglia basalis. Pusat aktivitas sensorik dan motorik pada masing-masing hemisfer rangkap dua dan sebagian besar berkaitan dengan bagian tubuh yang berlawanan. 

Otak kanan dan kiri dihubungkan
oleh corpus callosum.


Hemisfer serebri kanan mengatur bagian tubuh sebelah kiri dan hemisfer serebrisebelah kiri mengatur bagian tubuh sebelah kanan. Otak besar dibagi menjadi empat bagian, yaitu bagian dahi disebut lobus frontalis; bagjan ubun-ubun disebut lobus parientalis, bagian pelipis disebut lobus temporalis, dan bagian belakang disebut lobus oksipitalis. 




1. Bagian dahi (lobus frontalis) fungsi bagian ini beranggung jawab terhadap tiga fungsi utama, yaitu: 
  • Aktivitas motorik volunter;
  • Kemampuan berbicara dan berbahasa; 
  • Elaborasi pikiran. 

2. Bagian ubun-ubun (lobus parientalis) berfungsi untuk menerima dan mengolah masukan sensorik seperti sentuhan, tekanan, panas, dingin, dan nyeri dari permukaan tubuh serta merasakan kesadaran mengenai posisi tubuh.

3. Bagian pelipis (lobus temporalis) berfungsi sebagai pusat pendengaran 

4. Bagian belakang(lobus oksipitalis) berfungsi sebagai pusat penglihatan.


B. Otak Depan (Diensefalon) 

Otak depan dibagi menjadi empat wilayah, yaitu talamus, subtalamus, epitalamus, dan hipotalamus. Diensefalon melakukan proses rangsang sensorik serta membantu memulai atau memodifikasi reaksi tubuh terhadap rangsang. Selain fungsinya sebagai pusat sensorik primitif, talamus juga berperan penting dalam integrasi ekspresi motorik oleh karena hubungan fungsinya terhadap pusat motorik utama dalam korteks motorik serebri, serebelum, dan ganglion basalis. 

Hipotalamus adalah kumpulan nukleus khusus dan serat-serat yang terkait yang terletak di bawah talamus. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsang dari sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah laku dan emosi. Dengan demikian, hipotalamus berperan penting dalam pengaturan hormon-hormon. 

Hormon antideuriktik (ADH) dan antitoksin disintesis dalam nukleus yang terletak di dalam hipotalamus dan diangkut melalui akson-akson ke hipofisis posterior di mana mereka dilepas dan disimpan. Secara khusus hipotalamus berfungsi untuk:
  1. mengontrol suhu tubuh; 
  2. mengontrol rasa haus dan pengeluaran urin.
  3. mengontrol asupan makanan; 
  4. mengontrol sekresi hormon-hormon hipofisis anterior; 
  5. menghasilkan hormon-hormon hipofisis posterior; 
  6. mengontrol kontraksi uterus dan pengeluaran susu; 
  7. pusat koordinasi sistem saraf otonom utama yang kemudian mempengaruhi semua otot polos, otot jantung, dan kelenjar eksokren; 
  8. berperan dalam pola perilaku dan emosi. 

C. Mesencephalon (Otak Tengah) 

Mesencephalon (otak tengah) manusia mempunyai ukuran kecil dan terletak di depan otak kecil. Otak tengah mempunyai saraf okulomotoris (saraf yang berhubungan dengan pusat pergerakan mata) sehingga berfungsi untuk mengatur refleks kejap mata. 

D. Cerebellum (Otak Kecil) 

Serebelum terletak di dalam fosakrani posterior dan ditutupi oleh duramater yang menyerupai atap tenda, yaitu tentorium yang memisahkannya dari bagian posterior cerebrum. Bagian-bagian otak kecil antara lain bagian tengah, vermis, dan dua hemisfer lateral. Semua aktivitas serebelum berada di bawah kesadaran. Fungsi otak kecil / serebelum adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan dan sikap tubuh.

E. Batang Otak (Brainstem)

Batang otak terletak di arah kaudal yang berlanjut sebagai medula spinalis dan ke rostral berkaitan langsung dengan pusat-pusat otak yang lebih tinggi. Bagian-bagian batang otak dari bawah ke atas adalah medula oblongata, pons parolidan, dan mesensefalon (otak tengah). Fungsi medula oblongata antara lain:

  • Merupakan pusat pengatur refleks-refleks otot yang terlibat dalam keseimbangan dan postur tubuh; 
  • Sebagai pengontrol aktivitas jantung, vasokonstrikti pembuluh darah, pernapasan, bersin, batuk, dan aktivitas pencernaan seperti menelan, pengeluaran air liur, dan muntah; 
  • Memodulasi sensasi nyeri; 
  • Pusat dari 12 pasang saraf cranial, kecuali saraf vagus; 
  • Membantu mengarahkan perhantian atau konsentrasi. 

Pons (latin = jembatan) berupa jembatan serabut-serabut yang menghubungkan kedua hemisfer serebelum dan menghubungkan mesensefalon di sebelah atas dengan medula oblongata di bawah. Bagian bawah pons berperan dalam pengaturan pernapasan. Selain itu, bagian bawah pons berfungsi sebagai pusat saraf kranial V (trigeminus), VI (abdusen), dan VI (fasialis).

Materi Selanjutnya: Sistem Saraf Pusat dan Tepi Pada Manusia

7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jumlah Urin

Mengapa ketika suhu lingkungan dingin kita sering buang air kecil, sedangkan apabila suhu yang panas kita jarang buang air kecil tetapi banyak keringat? Dan mengapa ketika kita minum air banyak maka urine kita juga menjadi banyak? Sedangkan, disisi lain mengapa ada orang yang mempunyai kebiasaan beser (buang air kecil secara terus- menerus)? 

Jumlah urin yang dihasilkan setiap orang berbeda-beda dan tidak merata sepanjang hari. Hal ini disebakan oleh beberapa faktor antara lain sebagai berikut. 

  1. Jumlah air yang diminum, banyaknya air minum yang masuk ke dalam tubuh manusia akan menurunkan kadar protein dalam darah yang berdampak pada penurunan tekanan koloid protein sehingga tekanan filtrasi menjadi kurang efektif, akibatnya banyak air yang terbuang melalui urine.
  2. Suhu lingkungan, suhu lingkungan yang rendah akan mempengaruhi saraf renalis sehingga memacu penyempitan arteriol aferen, tekanan darah, dan aliran darah menuju ke glomerulus sehingga menyebabkan filtrasi kurang efektif, akibatnya urine banyak mengandung air dan cepat memenuhi kantong kemih sehingga kita sering buang air kecil. 
  3. Kadar garam di dalam darah, kadar garam di dalam darah yang tinggi dapat menyebabkan tekanan osmotiknya menjadi tinggi. Pengeluaran kadar garam yang berlebihan dari dalam darah akan diikuti pengeluaran air yang menyebabkan fitrasi menjadi kurang efektif sehingga urine banyak mengandung air.
  4. Hormon antidiuretik (ADH), hormon ADH berpengaruh terhadap proses reabsorbsi air di dalam tubulus, di mana bila konsentrasi hormon ADH yang disekresikan oleh hipofisis dalam darah tinggi maka reabsorbsi air dalam tubulus meningkat sehingga jumlah urine menurun. Dan apabila konsentrasi hormon ADH menurun di dalam darah akan menstimulasi penurunan reabsorbsi air dalam tubulus sehingga urinenya menjadi banyak. Seseorang yang kekurangan hormon ADH dapat menyebabkan urine menjadi banyak dan sering buang air kecil (beser) atau disebut dengab diabetes insipidus. 
  5. Hormon insulin, kekurangan hormon insulin pada seseorang akan menyebabkan Diabetes melitus. Penderita Diabetes melitus mempunyai kandungan glukosa dalam darah yang tinggi sehingga pada proses fitrasi banyak glukosa yang tidak tersaring, Akibatnya, banyak glukosa yang ikut keluar bersama urine. Pengeluaran glukosa juga diikuti dengan pengeluaran urine sehingga volume urine meningkat, akibatnya kadang-kadang terkesan beser.
  6. Alkohol dan kafein, kedua zat tersebut dapat menghambat pembentukan hormon ADH sehingga dapat meningkatkan produksi urin.
  7. Stress, seseorang yang mengalami stress pada umumnya tekanan darahnya meningkat sehingga menyebabkan banyak darah yang menuju ginjal. Di samping itu, ketika seseorang berada dalam kondisi emosi, maka kandung kemih akan mudah berkontraksi yang dapat menyebabkan hasrat ingin buang air kecil.

Penyakit, Kelainan dan Gangguan Sistem Ekskresi Manusia Beserta Gambarnya

 penyakit pada sistem ekskresi dan cara pencegahannya

Sistem Ekskresi pada manusia terdiri dari empat organ, yakni ginjal, kulit, hati / liver, dan paru-paru. Organ-organ tersebut mengeluarkan zat sisa metabolisme yang berbeda-beda. Alat ekskresi berfungsi untuk menjaga homeostatis (keseimbangan) tubuh dengan cara osmoregulasi. Jika organ-organ ekskresi tersebut mengalami kelainan, penyakit, atau gangguan, maka akan mengganggu proses osmoregulasi di dalam tubuh. Berikut adalah uraian mengenai Penyakit, Kelainan dan Gangguan pada Sistem Ekskresi pada Manusia.

1. Kelainan / Gangguan pada Ginjal

Ginjal manusia merupakan organ utama dalam sistemekskresi. Jika ada gangguan pada ginjal, maka akan menggangu sistem ekskresi. Luka berat, kehilangan banyak darah, keracunan zat-zat tertentu, serta penyakit tertentu yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi ginjal, terutama dapat menyebabkan gangguan dalam proses pembentukan urin. Beberapa kelainan atau gangguan pada sistem ekskresi ginjal antara lain sebagai berikut:

a. Gagal ginjal dan uremia 
Kegagalan fungsi ginjal yang akut dapat mengakibatkan nefritis, perdarahan, dan fungsi ginjal terhenti secara tiba- tiba. Gejala yang umum adalah tidak terjadinya proses pembentukan urin yang disebut anuria. Gejala ini berbahaya karena dapat menimbulkan uremia. Uremia adalah terbawanya urin ke dalam aliran darah yang disebabkan adanya kebocoran pada salah satu saluran dalam nefron. Akibat dari keadaan tersebut, penyerapan air oleh darah akan terganggu, sehingga terjadi penimbunan air pada kaki dan timbul bengkak (edema), demikian pula pada organ tubuh yang lain. 

b. Nefritis 
Nefritis adalah peradangan (inflamasi) pada nefron yang disebabkab oleh infeksi bakteri Streptococcus yang masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan. Dari saluran pernapasan, bakteri terbawa oleh darah ke ginjal. Peradangan pada ginjal tersebut menyebabkan protein yang masuk bersama urin primer tidak dapat disaring (filtrasi) sehingga dapat mengakibatkan urin primer ikut keluar bersama urin. Nefritis kronis pada umumnya terjadi pada orang lanjut usia dengan ditandai memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi), pengerasan pembuluh darah dalam ginjal, dan rusaknya glomerulus atau tubulus. 

c. Diabetes insipidus 
Diabetes insipidus adalah suatu kondisi penyakit yang diakibatkan oleh kelenjar hipofisis yang gagal mensekresikan hormon antidiuretik. Sebagai akibatknya, terjadinya ekskresi urin meningkat. Normalnya urin yang diekskresikan berjumlah antara 4-6 liter tiap hari, namun pada penderita ini dapat mencapai 12-15 liter tiap hari, tergantung dari volume air yang diminum. Penderita diabetes insipidus umumnya mengalami dehidrasi dan pengeluaran elektrolit dari cairan tubuh. Namun, kecenderungan ini dapat diimbangi oleh keinginan untuk minum dan makan makanan yang lebih banyak mengandung garam. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh tumor di elenjar hipotalamus atau hipofisis sehingga dapat mengakibatkan kerusakan di bagian hipotalamus yang mengatur sekresi hormon antidiuretik.

d. Diabetes melitus 
Diabetes melitus atau dikenal dengan kencing manis, yaitu terdapatnya glukosa dalam urin (Glukosuria) yang disebabkan menurunnya hormon insulin yang dihasilkan oleh pankreas. Menurunnya hormon insulin menyebabkan terganggunya proses perombakan glikogen menjadi glukosa dan reabsorpsi glukosa dalam glomerulus. 

e. Albuminaria 
Albuminuria adalah terdapatnya molekul albumin dan protein lain di dalam urin. Penyebab albuminaria yakni akibat adanya kerusakan pada alat filtrasi dalam ginjal sehingga protein dapat lolos selama proses filtrasi. 

f. Kencing batu 
Kencing batu atau batu ginjal, yaitu terbentuknya butiran-butiran dari senyawa kalsium dan penimbunan asam urat, sehingga dapat menyebabkan terbentuknya CaCO3 (kalsium karbonat) pada ginjal atau saluran urin yang dapat mengakibatkan kesulitan buang air kecil. Kencing batu dapat disebabkan oleh faktor hormon (yang dihasilkan kelenjar anak gondok paratiroid) serta disebebkan oleh kurangnya minum atau sering menahan buang air kecil.


2. Gangguan / Kelainan pada Hati (Liver)

a. Hepatitis
Penyakit pada sistem ekskresi hati salah satunya adalah hepatitis yang disebabkan oleh virus. Terdapat beberapa macam hepatitis antara lain Hepatitis A, B, C, D, E, dan Hepatitis autoimun. Gejala utama dari penyakit ini adalah terjadinya peradangan pada liver.

b. Sirosis
Sirosis adalah penyakit liver yang berupa matinya jaringan sehigga terjadi kerusakan. Penyebabnya bisa disebabkan oleh hepatitis dan zat berbahaya seperti alkohol.

3. Gangguan / Kelainan pada Kulit

a. Kanker kulit
b. Eksim
c. Kutil
d. Jerawat
e. Panu
f. Kurap 
g. Kudis
h. Frambusia

4. Gangguan / Kelainan pada Paru-paru

a. Pneumonia
b. Bronkitis
c. Tuberkulosis (TBC)
d. Asma
e. Emfisema
f. Pneumotoraks
g. Efusi Pleura

Sistem Peredaran Darah Pada Katak / Kodok (Amfibi) Dilengkapi Gambar

Sistem peredaran darah pada amfibi memiliki persamaan dengan hewan vertebrata lainnya yakni memiliki sistem peredaran darah tertutup. Dalam kelas amphibi, sistem peredaran darahnya mengalami perbedaan pada saat masih dalam bentuk berudu dan bentuk katak dewasa. Saat masih berudu, sistem peredaran darahnya sama seperti sistem peredaran darah ikan dimana jantung hanya terdiri dari dua ruangan (1 atrium dan 1 ventrikel). Adapun pada saat menjadi katak dewasa, sistem peredaran darahnya memiliki jantung dengan 3 ruang (2 atrium dan 1 ventrikel).

Gambar 1. Sistem peredaran darah pada berudu. (1) insang, terjadi pertukaran gas; (2) Titik oksigen habis; (3) Jantung yang terdiri dari dua rungan. Merah = darah kaya oksigen; Biru = darah kaya akan karbon dioksida.

Mekanisme sistem peredaran darah katak merupakan sistem peredaran darah tertutup dan peredaran darah ganda. Pengeritian sistem peredaran darah ganda adalah darah melewati jantung sebanyak dua kali dalam satu kali peredaran.

Pertama, darah yang berasal dari jantung akan menuju ke paru-paru kemudian kembali ke jantung. Kedua, darah yang berasal dari seluruh tubuh akan menuju ke jantung serta akan diedarkan kembali ke seluruh tubuh.

Katak memiliki jantung yang terdiri dari tiga ruang, yakni dua atrium (atrium kanan dan atrium kiri) dan satu ventrikel. Di antara atrium dan ventrikel terdapat klep yang berfungsi untuk mencegah agar darah di ventrikel tidak mengalir kembali ke atrium.

Gambar 2. Sistem peredaran darah katak.

Darah yang rendah oksigen dari berbagai jaringan serta organ-organ tubuh akan dialirkan ke sinus venosus menuju ke atrium kanan. Selanjutnya, darah dari atrium kanan akan mengalir ke ventrikel, kemudian akan menuju ke arteri pulmonalis serta masuk ke paru- paru.

Di paru-paru, gas karbon dioksida akan dilepaskan dan gas oksigen akan diikat. Dari paru-paru, aliran darah akan mengalir menuju ke vena pulmonalis kemudian menuju ke atrium kiri. Proses peredaran darah yang terjadi ini disebut peredaran darah kecil.

Tahap selanjutnya yakni alirah darah dari atrium kiri, maka darah akan mengalir ke ventrikel. Di ruangan ventrikel inilah terjadi percampuran darah yang mengandung oksigen dengan darah yang mengandung karbon dioksida dalam jumlah yang sedikit.

Aliran darah dari ventrikel akan keluar melalui traktus arteriosus (batang nadi) menuju aorta yang bercabang ke kiri dan ke kanan. Tiap aorta ini bercabang-cabang membentuk tiga arteri pokok, yakni (1) arteri anterior (karotis) yang berfungsi mengalirkan darah ke kepala dan ke otak, (2) lengkung aorta yang mengalirkan darah ke seluruh jaringan internal dan organ di dalam tubuh, dan (3) arteri posterior yang berfungsi mengalirkan darah menuju kulit dan paru-paru.

Katak memiliki darah yang terdiri dari plasma darah dan sel-sel darah. Kandungan plasma darah yakni air, protein darah, dan garam-garam mineral. Sel-sel darah katak terdiri dari eritrosit (sel darah merah) dan leukosit (sel darah putih). Eritrosit pada katak memiliki inti serta mengandung hemoglobin yang berfungsi untuk mengikat oksigen.

Sistem Peredaran Darah Ikan (Dilengkapi Gambar)

Ikan merupakan hewan vertebrata yang memiliki sistem peredaran darah tertutup dan peredaran darah tunggal. Pengertian sistem peredaran darah tunggal adalah aliran darah melalui jantung hanya satu kali dalam satu kali peredaran. Sistem organ peredaran ikan terdiri dari:
  1. Jantung yang berada di bagian belakang lengkung insang. Bagian-bagian jantung ikan terdiri dari satu atrium, satu ventrikel serta sinus venosus
  2. Conus Arteriosus
  3. Arteri
  4. Vena
  5. Kapiler



Mekanisme Peredaran Darah Ikan

Sistem Organ Peredaran Darah pada Ikan (credit: innerorgans.com)


Aliran darah dimulai dari jantung, kemudian darah menuju insang dan terjadi pertukaran gas. Selanjutnya, darah akan dialirkan aorta bagian dorsal dan kemudian menyebar ke semua organ-organ tubuh melalui pembuluh kapiler. 

Darah dari seluruh tubuh yang banyak mengandung gas karbon dioksida akan dialirkan menuju ke ke sinus venosus yang selanjutnya akan masuk ke atrium. 

Sinus venosus adalah ruangan atau rongga pada jantung ikan yang terletak di antara ventrikel dan atrium. Pada saat jantung relaksasi, darah akan mengalir melalui klep, kemudian masuk ke dalam ventrikel. Dari ventrikel, darah akan dialirkan menuju ke conus arteriosus, selanjutnya menuju aorta ventralis dan dilanjutkan ke insang. Di organ insang, aorta akan menjadi cabang-cabang kapiler (pembuluh-pembuluh kecil). 

Kapiler-kapiler insang tersebut akan melepaskan gas karbon dioksida dan mengambil oksigen dari air. Di kapiler-kapiler insang tersebut darah akan mengalir ke aorta dorsalis yang bercabang-bercabang. Dari cabang-cabang aorta dorsalis ini darah akan disebarkan ke kapiler-kapiler di seluruh bagian tubuh ikan yang banyak mengandung oksigen dan zat makanan ke sel-sel tubuh. 

Setelah itu, darah juga mengambil karbon dioksida yang kemudian dibawa kembali ke jantung melalui vena kava dan sinus venosus. 

Ringkasan
Darah (Kaya CO2 Sinus Venosus → Atrium → Ventrikel → Conus Arteriosus → Insang (Pertukaran CO2 dengam O2→ Darah (kaya O2→ Seluruh Tubuh

Struktur, Anatomi, Fungsi dan Rumus Gigi Manusia

Gigi tersusun atas tiga bagian, yakni mahkota gigi (korona), leher gigi (korum), dan akar gigi (radius). Akar gigi adalah bagian dari gigi yang berada di dalam rahang gigi. Pembentukan gigi berawal dari dua jaringan embrional, yakni ektoderm dan mesoderm. 

Ektoderm akan membentuk lapisan gigi yang paling luar atau disebut dengan email. Email adalah lapisan keras yang berguna untuk menutupi permukaaan gigi. Email memiliki fungsi sebagai pelindung gigi saat mengunyah. Email juga mampu melindungi gigi terhadap kondisi asam yang dapat melarutkan dentin. 

Sementara itu, mesoderm akan membentuk dentin (tulang gigi) yang berada di dalam email, sementum (lapisan luar akar gigi), dan pulpa (rongga gigi) yang banyak mengandung serabut saraf serta pembuluh darah.



Berdasarkan bentuknya, gigi yang dimiliki manusia terdiri dari gigi seri (insisivus), gigi taring (kaninus), dan gigi geraham depan (premolar) serta gigi geraham belakang (molar). Gigi seri berfungsi untuk memotong makanan. Gigi taring berfungsi untuk menyobek makanan. Gigi geraham berfungsi untuk mengunyah makanan. 



Pertumbuhan gigi pada manusia melalui dua tahap, yaitu gigi susu (deciduous) dan gigi permanen. Gigi susu tumbuh ketika masa pertumbuhan yang terjadi pada bayi mulai usia 6-7 bulan hingga usia 26 bulan. Setelah berusia enam hingga empat belas tahun, gigi susu akan digantikan dengan gigi permanen. 

Baca Juga: Rumus Gigi Hewan Mamalia

Jumlah gigi pada anak-anak yakni 20 buah. Pada rahang atas dan rahang bawah terdapat 8 gigi seri (2 x 4), 4 gigi taring 14 x (1 x 1)], dan 8 gigi geraham [2 x (2 x 2)]. Sementara pada orang dewasa ditambah dengan 12 gigi geraham belakang 12 x (3 + 3)], sehingga jumlah gigi akan menjadi 32 buah. Untuk mempermudah mengetahui susunan dan jumlah gigi, maka terdapat rumus gigi yang dijelaskan dalam bentuk diagram berikut:


Rumus Gigi Anak-anak / Gigi Susu
Rumus gigi anak tersebut dapat ditulis dengan:

M0 P2 C1 I2 | I2 C1 P2 M0


Rumus Gigi Orang Dewasa
Rumus gigi pada orang dewasa tersebut dapat ditulis dengan:

M3 P2 C1 I2 | I2 C1 P2 M3


Ciri-ciri dan Klasifikasi Mamalia TERLENGKAP



Pengertian hewan mamalia adalah berasal dari Bahasa Latin "mamma" yang artinya puting susu. Kata tersebut pertama kali oleh Carl Linnaeus pada tahun 1758. Secara makna, hewan mamalia merupakan hewan yang memiliki kelenjar susu yang berperan untuk memberikan susu kepada anaknya. Hewan ini dapat dijumpai mulai di lautan, pegunungan, hutan, daerah bersalju, daerah pertanian bahkan perkotaan. 

Berdasarkan data dari ITIS (Integrated Taxonomic Information System), jumlah spesies mamalia sekitar 5.852. Jumlah tersebut bisa saja menyusut akibat kepunahan dan juga bertambah ketika ada temuan spesies baru. 


Ciri-ciri
Hewan mamalia memiliki ciri utama yakni adanya kelenjar susu pada individu betina, adapun ciri-ciri mamalia yang lainnya yakni:

  • Regulasi suhu termasuk endoterm / homoiterm
  • Tipe gigi heterodont
  • Memiliki rambut di tubuhnya
  • Memiliki kelenjar susu
  • Memiliki tulang vertebrae
  • Memiliki diafragma
  • Memiliki jantung dengan 4 ruang
  • Memiliki kelenjar minyak sebaceous
  • Memiliki satu tulang rahang bawah
  • Memiliki tiga tulang pada telinga tengah (stapes, incus, malleus)
  • Memiliki otak dengan kapasitas relatif besar
  • Bernafas dengan paru-paru
  • Kelamin jantan dan betina terpisah
  • Berkembang biak dengan cara melahirkan (vivipar)


Taksonomi
Menurut Vaughan et al. (2000), klasifikasi mamalia terdiri dari 26 ordo dan 136 famili. Berikut adalah klasifikasi mamalia di dunia yang dirangkum dalam bentuk tabel.

Kelas
Sub Kelas
Infra Kelas
Ordo
Famili
Mamalia
Prototheria
-
Monotremata
Tachyglossidae
Theria 
Metatheria
Didelphimorphia
Didelphidae
Paucituberculata
Caenolestidae
Microbiotheria
Microbiotheriidae
Dasyuromorphia

Thylacinidae
Myrmecobiidae
Dasyuridae
Peramelemorphia

Peramelidae
Peroryctidae
Notoryctemorphia
Notoryctidae
Diprotodontia
Acrobatidae
Burramyidae
Macropodidae
Petauridaea
Phalangeridae
Phascolarctidae
Potoroidae
Pseudocheiridae
Tarsipedidae
Vombatidae
Eutheria
Xenarthra



Bradypodidae
Megalonychidae
Dasypodidae
Myrmecophagidae
Insectivora


Solenodontidae
Nesophontidae
Tenrecidae
Chrysochloridae
Erinaceidae
Soricidae
Talpidae
Scandentia
Tupaiidae
Dermoptera
Cynocephalidae
Chiroptera













Craseonycteridae
Emballonuridae
Furipteridae
Hipposideridae
Megadermatidae
Molossidae
Mormoopidae
Mystacinidae
Myzopodidae
Natalidae
Noctilionidae
Nycteridae
Phyllostomidae
Pteropodidae
Rhinolophidae
Rhinopomatidae
Thyropteridae
Vespertilionidae












Callitrichidae
Cebidae
Cercopithecidae
Cheirogaleidae
Daubentoniidae
Galagidae
Hominidae
Hylobatidae
Indriidae
Lemuridae
Lepilemuridae
Lorisidae
Tarsiidae
Carnivora










Canidae
Felidae
Herpestidae
Hyaenidae
Mustelidae
Odobenidae
Otariidae
Phocidae
Procyonidae
Ursidae
Viverridae
Cetacea









Balaenidae
Balaenopteridae
Delphinidae
Eschrichtiidae
Monodontidae
Neobalaenidae
Phocoenidae
Physeteridae
Platanistidae
Ziphiidae
Sirenia

Dugongidae
Trichechidae
Proboscidea
Elephantidae
Perissodactyla


Equidae
Rhinocerotidae
Tapiridae
Hyracoidea
Procaviidae
Tubulidentata
Orycteropodidae
Artiodactyla









Antilocapridae
Bovidae
Camelidae
Giraffidae
Hippopotamidae
Moschidae
Suidae
Tayassuidae
Tragulidae
Pholidota
Manidae
Rodentia




























Abrocomidae
Agoutidae
Anomaluridae
Aplodontiidae
Bathyergidae
Capromyidae
Castoridae
Caviidae
Chinchillidae
Ctenodactylidae
Ctenomyidae
Dasyproctidae
Dinomyidae
Dipodidae
Echimyidae
Erethizontidae
Geomyidae
Heptaxodontidae
Heteromyidae
Hydrochaeridae
Hystricidae
Muridae
Myocastoridae
Myoxidae
Octodontidae
Pedetidae
Petromuridae
Sciuridae
Thryonomyidae
Lagomorpha

Leporidae
Ochotonidae
Macroscelidea
Macroscelididae