Jasa Identifikasi Tumbuhan Bersertifikat



Divisi Botani dari Yayasan Generasi Biologi Indonesia melayani jasa identifikasi tumbuhan untuk mahasiswa, peneliti, dan umum dengan tujuan untuk memberikan informasi kejelasan suatu jenis tumbuhan untuk keperluan ilmu pengetahuan.

Identifikasi tumbuhan adalah adalah suatu proses pencandraan jenis tumbuhan secara detail berdasarkan kunci identifikasi dari sumber literatur yang dapat dipertanggung-jawababkan secara ilmiah. 


Prosedur Pelayanan
  1. Mengirimkan pesan via email ke generasibiologi@gmail.com dengan format Subyek Nama (spasi) Identifikasi Tumbuhan.
  2. Setalah itu, pemohon akan dikirimkan form.
  3. Mendapatkan konfirmasi dari unit jasa dan informasi.
  4. Melakukan penyelesaian administrasi.
  5. Mengirimkan foto / sampel / herbarium tumbuhan.
  6. Mendapatkan hasil identifikasi.


Tarif Jasa Identifikasi Tumbuhan

Jenis Pelayanan
Satuan
Tarif
Pelajar/Mahasiswa


1-100 spesimen
Per spesies
45.000
101-500 spesimen
Per spesies
40.000
> 500 spesimen
Per spesies
35.000



Umum / Peneliti


1-100 spesimen
Per spesies
60.000
101-500 spesimen
Per spesies
55.000
> 500 spesimen
Per spesies
50.000



Instansi Pemerintah
Per spesies
45.000


Hasil Identifikasi
Hasil identifikasi berupa determinasi jenis tumbuhan dalam bentuk surat keterangan resmi dari Yayasan Generasi Biologi Indonesia.


Informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi kami di 081-332-137-404 (WA)

Strukur, Fungsi, dan Biokimia Mitokondria

fungsi mitokondria brainly, mitokondria pdf, fungsi membran luar mitokondria, fungsi matriks pada mitokondria, krista mitokondria, sebutkan fungsi mitokondria

Mitokondria adalah komponen seluler yang sangat penting bagi metabolisme tubuh untuk menghasilkan energi yang akan dimanfaatkan bagi kelangsungan hidup suatu organisme, proses apoptosis dan mekanisme penuaan. Secara harfiah mitokondria berasal dari istilah Yunani yaitu mitos (seperti benang) dan khondros (granula) yang berarti organel yang ukurannya menyerupai bakteri. Mitokondria ditemukan pada seluruh jenis sel berinti kecuali sel darah merah dan merupakan sumber energi utama bagi sel dalam bentuk ATP (Adenosine Triphosphate).

Struktural mitokondria mengandung DNA (DNA mitokondria atau mtDNA) tersendiri yang berbeda dengan DNA nukleus dan diwariskan secara maternal melalui sitoplasma. Genom mitokondria manusia terdapat sekitar 16,6 kb yang mengandung 37 gen terdiri dari 13 gen pengkode protein yang telibat dalam mekanisme fosforilasi oksidatif (oxidative phosphorylation/OXPHOS) dan 24 gen lainnya [2 RNA ribosomal mitokondria (mt-RNA) dan 22 RNA transfer mitokondria (mt-tRNA). Sebuah studi menunjukkan bahwa sebagian besar mutasi terjadi di mt-tRNA, sekitar 40% mutasi terdapat pada gen pengkode protein, dan hanya 2% mutasi pada gen mt-rRNA. Sejak tahun 1988 telah ditemukan sekitar 270 mutasi titik yang diakibatkan oleh mtDNA.

Seluruh faktor protein mitokondria yang dibutuhkan untuk sintesis RNA, proses endonukleolitik, modifikasi post transkripsi, aminoasilasi, regulasi stabilitas RNA, pergantian RNA, faktor untuk biogenesis ribosom mitokondria dan translasi dikode oleh DNA nukleus (nDNA). Molekul protein tersebut dibawa dari hasil translasi dalam sitosol ke mitokondria. Beberapa studi menyatakan bahwa ada sekitar 250-300 protein yang dikode oleh DNA nukleus untuk mekanisme ekspresi gen mitokondria. Mutasi yang berkaitan dengan penyakit mitokondria ditemukan terjadi pada DNA nukleus atau DNA mitokondria (mtDNA). Mutasi pada nDNA pengkode gen mitokondria lebih sering ditemukan dibandingkan dengan mutasi pada mtDNA, tetapi tingkat mutasi gen mtDNA lebih tinggi dibandingkan dengan gen nDNA karena peranan mtDNA dalam produksi ROS mitokondria.

Kelainan genetik mitokondria bisa dihasilkan pada mtDNA dalam bentuk mutasi delesi, mutasi titik atau deplesi yang mengakibatkan kehilangan fungsional mitokondria dalam mekanisme OXPHOS. Mutasi dapat terjadi secara spontan atau keturunan pada gen yang terdapat pada mtDNA. Disfungsi mitokondria ditemukan memiliki asosiasi dengan beragam penyakit degeneratif, penyakit metabolik, kanker dan penuaan (aging). Studi lainnya mengungkapkan bahwa disfungsi mitokondria secara umum dan mutasi mtDNA khususnya memiliki peranan pada penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, Parkinson dan Huntington.

Upaya yang dilakukan untuk untuk mengetahui kelainan mtDNA dapat dilakukan dengan pengecekan melalui protein inti pada replikasi mtDNA atau gen yang terlibat dalam menyediakan prekursor nuklotid mitokondria yang dibutuhkan untuk replikasi mtDNA. 

Terapi genetik mitokondria dikembangkan baik pada level gen nDNA maupun mtDNA. Pendekatan terapa pada gen mitokondria yang dikode oleh nDNA merupakan salah satu strategi untuk menangani kondisi mutasi resesif dalam upaya mengembalikan keseimbangan fungsional biokimia. Terapi gen pada kasus mutasi mtDNA dapat dilakukan melalui pendekatan seperti intervensi mtDNA normal secara langsung pada mtDNA yang mengalami kerusakan, reduksi persentasi mtDNA mutan, dan medikasi mtDNA secara langsung.

Penulis: Dian Juliadmi

Referensi:
  1. Cooperland, W. 2008. Inherited Mitochondrial Diseases of DNA Replication. Annu Rev Med, 59, 131-146.
  2. Schon, E.A., S. DiMauro, and M. Hirano. 2012. Human mitochondrial DNA: roles of inherited and somatic mutations. Nat Rev Genet, 13(2), 878-890.
  3. Wallace, D.C., W. Fan and V. Procaccio. 2010. Mitochondrial Energetics and Therapeutics. Annu Rev Pathol, 5, 297-348.


Pengertian Konseling Genetik Sebagai Upaya Mencegah Penyakit Keturunan



The Human Genome Project (HGP) merupakan penelitian yang telah menemukan seluruh sekuen genom manusia sehingga dapat dipetakan dalam susunan-susunan nukleotida DNA (Rujito, 2010). Penemuan tersebut dimanfaatkan dalam bidang kesehatan untuk mengungkap etiologi penyakit termasuk penyakit keturunan. Penyakit keturunan terjadi karena ada perubahan tidak normal pada nukleotida DNA atau adanya variasi genetik. Penyakit keturunan adalah penyakit yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Penyakit keturunan dalam suatu keluarga sering diabaikan oleh kebanyakan orang. Akibatnya akan dilahirkan keturunan tidak normal akan tetapi sebagai pembawa penyakit (carriers) ataupun penderita (patients) penyakit keturunan bahkan menimbulkan kematian. Tingkat kematian dari kelahiran bayi meningkat dari 3% menjadi 50% dalam beberapa dekade yang disebabkan oleh penyakit keturunan (Indrasanto, 2008). Hal ini menggambarkan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan dan merupakan permasalahan yang memprihatinkan jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Dampak lainnya adalah probabilitas penyebaran penyakit keturunan yang akan melewati beberapa generasi. Selain itu, penyebarannya juga akan mencapai jumlah keluarga yang berbeda. Proses penyebarannya dapat terjadi melalui pernikahan. Penyakit tersebut diturunkan secara langsung oleh salah satu atau kedua orang tua yang menderita atau terjadinya persilangan genetik antara dua individu. Pernikahan menyebakan terjadinya variasi genetik baik pada tingkat kromosom, gen dan DNA. Variasi tersebut akan menyebabkan manifestasi klinis yang beragam.

Manifestasi penyakit keturunan tidak dapat dihindari jika ada kelahiran dan hanya perlu dilakukan manajemen klinis melalui pengobatan seperti bedah dan terapi. Akan tetapi, manifestasinya dapat dicegah pada keturunan yang akan lahir. Tindakan preventif yang dapat dilakukan adalah konseling genetik pranikah. Konseling genetik pranikah memberikan edukasi tentang riwayat penyakit keturunan dalam keluarga, pola pewarisan pada anak, diagnosa dan prognosis, pemriksaan pendukung dan pengambilan keputusan.

Konseling genetik pranikah membantu pasangan terutama pada keluarga yang berprevalensi penyakit keturunan (prevalensi > 5%) untuk melakukan pemeriksaan tentang kondisi kesehatan masing-masing (Ganie, 2006). Hal ini perlu dilakukan sebelum merencanakan pernikahan untuk melahirkan keturunan. Pemanfaatan konseling genetik diharapkan juga sebagai upaya mitigasi prevalensi penderita penyakit keturunan.

Pernikahan merupakan proses untuk membentuk sebuah keluarga dengan cara menghasilkan keturunan. Menurut WHO (World Helath Organization), keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang harmonis dengan kondisi sehat secara fisik, psikologis, sosial dan spiritual. Persiapan sebelum pernikahan adalah hal penunjang untuk menciptakan keluarga yang berkualitas. Salah satu tahapan persiapannya adalah pemeriksaan kesehatan pasangan dan keluarga sebelum pernikahan (Medical Check Up Pra nikah).

Masyarakat menganggap bahwa penelusuran riwayat kesehatan keluarga bukan persiapan penting bahkan hal tabu yang harus dilakukan karena bisa merusak silaturahmi antar keluarga. Tingkat emosional berupa ketakutan pembatalan pernikahan seandainya ditemukan penyakit juga merupakan alasan ketabuannya. Kepercayaan pada takdir jodoh memberikan keyakinan yang kuat untuk tidak melakukannya. Selain itu, pemeriksaan membutuhkan pembiayaan yang sangat besar sehingga dihindari dalam rangka efisiensi biaya. Oleh karena itu, dalam aspek sosial, tingkat emisonal, agama dan etika serta materi menjadi alasan tidak dilaksanakannya pemeriksaan kesehatan pranikah.

Dalam beberapa dekade, pemeriksaan pra nikah tersebut perlu dilakukan. Hal ini mempertimbangkan semakin tingginya prevalensi penyakit keturunan di dunia yang bahkan menyebabkan kematian. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang riwayat kesehatan keluarga dan penyakit keturunan yang memiliki probabilitas akan diturunkan pada generasi berikutnya. Setelah itu, pengelolaan dan penanganan apabila ada permasalahan dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan (Napitupulu, 2009).

Penyakit keturunan merupakan permasalahan atau gangguan genetik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan variasi yang komplek atau mengikuti Hukum Mendel. Buzzle (2014) menyatakan bahwa variasi dalam lingkup genetik yang akan menyebabkan penyakit keturunan diklasifikasikan menjadi tiga yaitu gen tunggal, multifaktorial dan poligen, dan mitokondrial DNA. 

Variasi gen tunggal berarti gangguan genetik yang terjadi pada gen tunggal. Gangguan tersebut disebabkan adanya mutasi pada gen tunggal. Mutasi akan menyebabkan penyakit secara langsung pada keturunannya dan bisa juga hanya diturunkan tanpa menimbulkan manifestasi klinis. Variasi yang terjadi terdiri atas 5 tipe yaitu autosom dominan, autosom resesif, X-linked dominan, X-linked resesif, dan Y-linked. Penyakit akibat variasi ini diantaranya adalah Hintington, galactosemia, X-linked hypophosphatemia, Ocular albinism, infertil, albino, talasemia, dan hemofilia.

Polygenic dan multifaktorial terjadi ketika faktor genetik dan faktor non genetik yang saling berinteraksi seperti lingkungan, gaya hidup, dan kebiasaan. Manifestasi penyakit ini diantaranya adalah autisme, diabetes melitus, kanker, hipertiroid, Alzheimer's disease, Schizophrenia, cerebral palsy, Bipolar disorder, Cleft lip and palate, osteoporosis, kelainan kardiovaskular, anemia dan Parkinson's disease.

Kelainan mitochondrial DNA-associated dapat disebabkan oleh kerusakan pada mitokondria DNA (mtDNA) secara fungsional yang diwariskan secara maternal. Manifestasi disfungsi genetik mtDNA ditemukan pada beberapa penyakit seperti Pearson syndrome, Kearns-Sayre syndrome (KSS), Leber hereditary optic neuropathy (LHON), Myoclonic epilepsy and ragged-red fibers (MERRF), Maternally-inherited diabetes and deafness (MIDD), Neuropathy, ataxia, and retinitis pigmentosa (NARP), Chronic progressive external ophthalmoplegia (CPEO), dan Mitochondrial myopathy, encephalopathy, lactic acidosis and stroke-like episodes (MELAS).

Berdasarkan uraian diatas, digambarkan bahwa penyakit keturunan mencakup penyakit berbahaya dan memiliki resiko kematian yang sangat tinggi pada penderitanya. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu upaya untuk melakukan pencegahan atau pengendalian manifestasi penyakit keturuan melalui konseling genetik. Konseling genetik dilakukan dengan penelusuran terhadap riwayat kesehatan keluarga dan analisis pedigree sebelum dilaksanakan pernikahan.

Pengenalan istilah konseling genetik (Genetic counseling) pertama kali oleh Dr. Sheldon Redd (1947) dari Dight Institute for Human Genetics, University of Minnesota (Ganie, 2005). National Society of Genetic Counselors (NSGC) mendefinisikan konseling genetika adalah proses komunikasi yang berkaitan dengan masalah kesehatan manusia yang berhubungan dengan kejadian atau risiko kekambuhan dari penyakit genetik dalam suatu keluarga (Jessica et al., 2012).

Tujuan utama konseling genetik bertujuan untuk mencegah kelahiran dalam kondisi defek dan memiliki gangguan kromosom (Biesecker, 2001). Selama ini konseling genetik hanya dilakukan pada layanan prenatal, pediatric, dan dewasa melalui manajemen klinis. Upaya pengendalian atau pencegahan belum ada dilakukan untuk mengurangi insidensi penyakit keturunan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, konseling genetik seharusnya dilakukan sebelum pernikahan (pra nikah).

Konseling genetik pra nikah ditargetkan agar keturunan yang dihasilkan nanti lahir dalam kondisi yang baik dan berkualitas. Kegiatan ini dilakukan secara menyeluruh terhadap masing-masing pasangan dan keluarganya yang berprevalensi. Dengan mempertimbangkan nilai-nilai etika, moral, agama, dan budaya konseling genetik dapat terlaksana dengan optimal.

Konseling genetik memiliki tujuan utama yaitu tindakan preventif penyakit keturunan. Layanan tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak demi terselenggaranya layanannya. Pihak berkepentingan dalam upaya preventif penyakit keturunan adalah pakar kesehatan yang termasuk diantaranya adalah konselor genetik dan ahli genetik, pakar pendidikan, dan pihak pemerintah.

Konselor genetik merupakan pihak yang memberikan konseling genetik kepada masyarakat atau pasien. Konselor akan melakukan penyelidikan terhadap suatu penyakit keturunan yang beresiko dalam suatu keluarga. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan dan penanganan dengan analisa yang tepat sebagai upaya preventif terutama terhadap pasangan yang akan melaksanakan pernikahan. Seorang konselor harus memliki pengetahuan tentang mekanisme terjadinya berbagai penyakit genetik, pemilihan pemeriksaan yang dibutuhkan, prognosis dan tata laksana serta prediksi terhadap munculnya penyakit yang sama pada anggota keluarga lain atau keturunan selanjutnya.

Pihak pendidikan terdiri atas lembaga-lembaga pendidikan dan mencakup ilmuwan. Mereka sebaiknya berupaya tegas untuk mengembangkan ilmu pengetahuan terutama dalam konsep genetik konseling dan penanganan permasalahan genetik agar meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Upaya lainnya yang dapat mereka lakukan adalah menemukan solusi baik pencegahan maupun pengobatan untuk penyakit keturunan demi kesejahteraan masyarakat.

Dalam upaya tersebut, pemerintah juga ikut andil melalui kebijakan-kebijakan tentang genetik konseling. Pemerintah menyediakan fasilitas khusus bagi pengguna layanan ini. Hal ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat mendapatkan layanan tanpa adanya persoalan baru yang akan muncul seperti biaya. Masyarakat adalah pengguna layanan konseling genetik. Mereka melaksanakan konseling genetik bertujuan untuk menjaga kesehatan dan mengetahui kondisi kesehatan masing-masing serta keluarga apalagi jika akan melakukan pernikahan. Hal ini penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya penyakit pada generasi selanjutnya.

Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk implementasi konseling pranikah terdiri atas dua cara yaitu eksternal dan internal. Langkah eksternal adalah strategi yang dilakukan agar pasangan yang akan melakukan pernikahan melaksanakan konseling genetik terutama bagi pasangan yang memiliki riwayat penyakit keturunan. Strategi tersebut dilaksanakan melalui pemberian infomasi atau sosialisasi oleh pihak-pihak berkepentingan kepada masyarakat seperti melalui media massa. Target yang ingin dicapai melalui langkah ini adalah masyarakat (berprevalensi penyakit keturunan) menjadikan konseling genetik sebagai kebutuhan sebelum pernikahan.

Langkah internal merupakan kegiatan konseling genetik yang akan dilakukan oleh pasangan yang akan melakukan pernikahan. Pada langkah ini, setiap masyarakat atau pasien akan mengikuti tahap dalam prinsip genetika konseling yaitu diagnosis dan prognosis, edukasi keluarga seperti pembuatan pedigree, pemeriksaan pendukung dan penanganan termasuk pengambilan keputusan.

Diagnosis dilakukan melalui penyelidikan kesehatan masing-masing pasangan dan keluarganya. Penyelidikan dilakukan dengan menelusuri penyakit keturunan yang terdapat dalam keluarga atau diderita anggota keluarga. Prognosis dilakukan untuk memprediksi penyakit keturunan yang akan muncul pada pasangan atau keturunan selanjutnya.

Diagnosis yang benar akan menghasilkan prognosis yang tepat. Prognosis dapat dilakukan melalui edukasi keluarga dengan pembuatan pedigree. Melalui diagnosis dan prognosis, dilakukan penelusuran pola penurunan dan penyebarannyadalam penghitungan yang jelas. Hasilnya nanti adalah sebuah informasi penyakit keturunan berupa lokasi dan waktu.

Berdasarkan hasil tersebut, dilakukan pemeriksaan pendukung untuk memperkuat pernyataan tentang penyakit keturunan. Pemeriksaan tersebut dapat berupa uji genetik (genetic testing). Selanjutnya, dilakukan pengolahan informasi yang telah diperoleh agar dapat menetukan pilihan untuk penanganan berdasarkan resiko yang dianalisis.

Penulis: Dian Juliadmi

Referensi:
  1. Biesecker, BB. 2001. Mini Riview: Goals of genetic counseling. Clin Genet 60: 323–330.
  2. Buzzle. 2014. Genetic Diseases List Disorders. http://www.buzzle.com/ articles/genetic-diseases-list-disorders.html. Padang, 1 Maret 2014.
  3. Collins F, Shattuck lecture medical and societal consequences of human genome project, N. Engl. J. Med., 1999, 341, 28-36.
  4. Ganie, R.A. 2005. Pidato Pengukuhan: Thalasemia Permasalahannya dan Penanganannya. USU Repository.
  5. Indrasanto, E. 2008. Kelainan Kongenital/Bawaan. Buletin Perinasia Tahun XV nomor 3, Juli-September 2008.
  6. Jessica, L. M., A. H. Schreiber, R.T. Moran. 2012. Genetic counselors: Your partners in clinical practice. Cleveland Clinic Journal of Medicine Vol 79 (8): 560-568. Agustus 2012.
  7. Napitupulu, R.N.R. 2009. Bioetika Pemeriksaan Kesehatan PraNikah. STIH: ITB. Tidak Dipublikasikan.
  8. Rujito, L. 2010. Konseling Genetik, Strategi Mengontrol Penyakit Genetik Di Indonesia. Mandala of Health Vol 4(1): 53-59. Universitas Jendral Soedirman.

Pengertian dan Perbedaan Simplas, Apoplas, dan Transpor Transmembran

Air merupakan komponen yang sangat penting bagi makhluk hidup, tak terkecuali tumbuhan. Senyawa yang terdiri dari 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen ini bukan hanya berperan penting dalam proses fotosintesis tetapi juga dalam keseluruhan proses tumbuh dan berkembang tumbuhan.

Apalagi tumbuhan merupakan makhluk yang sesil. Saat ada gangguan dari luar mereka tidak bisa berpindah tempat dengan mudah layaknya hewan (fly). Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah mencoba beradaptasi dengan gangguan tersebut (fight). Sehingga kelestariannya akan sangat bergantung pada zat-zat yang berada di area tempat tinggalnya dan bagaimana ia mengelola dan mengalokasikan zat-zat tersebut ke bagian-bagian tubuhnya yang kompleks.

Tumbuhan sendiri hanya dapat menyerap air dari dalam tanah melalui akar. Akan tetapi air ini tentu dibutuhkan juga oleh organ-organ lain yang berada di atas tanah seperti batang dan daun. Maka dari itu tumbuhan perlu mentranspor air yang ia serap dari dalam tanah ke organ-organ lainnya di atas tanah. Transpor tersebut setidaknya dapat terwujud lewat 3 jalur transpor sebagai berikut.

simplas apoplas, simplas apoplas perbedaan, perbedaan pengangkutan simplas apoplas, simplas dan apoplas adalah, simplas dan apoplas pada akar, pengangkutan simplas apoplas, pengertian simplas apoplas, jalur simplas apoplas, mekanisme simplas apoplas, apa itu simplas apoplas


1. Simplas

Dalam transpor simplas, mula-mula air dari sel epidermis bulu akar akan dimasukkan kedalam sel. Masuknya air kedalam sel ini dapat melalui mekanisme transpor pasif alias difusi. Jika sudah berhasil masuk, maka air akan terus bergerak dari sel yang satu ke sel lainnya dengan memanfaatkan plasmodesmata.

Plasmodesmata adalah bagian sitoplasma yang bersambung antara satu sel tumbuhan dengan sel-sel tumbuhan di sebelahnya. Bagian ini terbentuk sewaktu terjadi peristiwa pembelahan sel. Lewat bagian inilah sel-sel tumbuhan saling terkoneksi satu sama lain dan tumbuhan memanfaatkannya untuk mentranspor air dan zat-zat lainnya.

Air yang masuk lewat jalur simplas nantinya akan bergerak terus hingga mencapai jaringan pembuluh. Urutannya dimulai dari sel bulu akar, sel korteks, endodermis, perisikel, dan berakhir di xilem. Jika sudah sampai di xilem, berarti tumbuhan siap mengangkut air tersebut ke bagian tumbuhan yang lebih tinggi (batang dan daun).

2. Apoplas

Berbeda dengan transport simplas, dalam apoplas air tidak akan langsung dimasukkan kedalam sel. Air justru bergerak dengan memanfaatkan ruang-ruang ekstraseluler yang terdapat dalam dinding sel. Ruang interseluler yang terbentuk dalam jaringan tumbuhan juga dapat dilewatkan oleh transport apoplas ini.

Sayangnya begitu mencapai endodermis laju aliran apoplas akan terhenti oleh pita kaspari. Akibatnya air terpaksa masuk ke dalam sel agar dapat mencapai endodermis melalui membran plasma. Jika sudha berhasil masuk ke endodermis, maka air akan mengikuti aliran simplas hingga mencapai jaringan pengangkut (xilem).

3. Jalur Transmembran

Secara umum transpor air dalam tumbuhan memang hanya akan melibatkan jalur apoplas dan simplas. Namun pada kenyataannya masih ada satu jalur lagi yang dapat digunakan, yakni jalur transmembran.

Seperti dikutip dari Taiz & Zeiger (2003), jalur transmembran dapat dikatakan sebagai perpaduan antara jalur simplas dan jalur apoplas. Lewat mekanisme ini, air akan masuk ke dalam sel di satu sisi, kemudian keluar dari sel tersebut di sisi lainnya. Kemudian air akan kembali masuk ke dalam sel berikutnya dan akan keluar lagi dari sel tersebut di sisi ujungnya, dan seterusnya. Dengan jalur transpor ini, tentu air dapat melewati pita kaspari tanpa perlu melalui plasmodesmata.

Itulah ketiga jalur transpor air yang dimiliki oleh tumbuhan. Jalur transpor mana yang akan dipakai tentu akan sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan faktor dari dalam tumbuhan tersebut. Tetapi yang jelas tumbuhan dapat memanfaatkan ketiga jalur tersebut untuk mengangkut air dari dalam tanah menuju jaringan pengangkut ke seluruh organ.


Penulis: Arief Ardiansyah

Referensi: Taiz, L. & Zeiger, E. (2003). Plant Physiology, 3rd ed. Sunderland: Sinauer Associates.

55 Jenis Burung Hantu di Indonesia TERBARU


Burung Hantu adalah kelompok burung yang masuk dalam ordo Strigiformes. Ciri-ciri burung hantu secara umum yakni kelompok burung yang memiliki kepala dengan ukuran besar dan bulat, ukuran mata besar dan menghadap ke depan, bulu tubuhnya yang tersusun secara radial, memiliki ukuran lubang telinga relatif lebar, akan tetapi seringkali tertutupi oleh lipatan kulit, ukuran paruh relatif pendek; cakar jari kaki yang tajam untuk mencengkeram. Burung hantu dapat terbang tanpa suara karena memiliki sayap dengan bulu-bulu yang halus. 

Berdasarkan data dari Catalogue of Life, di dunia ada 199 jenis burung hantu dan 55 jenis diantaranya adalah jenis burung hantu asli indonesia. Sebagian besar sarang berupa lubang pada pohon kadang di lubang bangunan, aktif pada waktu malam hari (nocturnal), dan bersifat predator. Semua jenis burung hantu memiliki telur berwarna putih. Ordo burung hantu (Strigiformes) dibagi menjadi dua famili/suku,  yakni Tytonidae (burung serak) dan Strigidae (burung hantu sejati).

Famili (Suku) Tytonidae adalah kelompok burung serak dengan ciri-ciri famili muka berbentuk hati (love) dan sangat bulat serta mata gelap. Piringan muka lebar yang memiliki fungsi untuk memfokuskan suara ke telinga saat berburu. Bulu sayap lembut sehingga tidak terdengar ketika terbang. Suranya berupa pekikan parau (serak).

Famili (Suku) Strigidae adalah kelompok burung hantu sejati dengan ciri-ciri mirip famili Tytonidae namun ukuran kakinya lebih pendek dan piringan muka lebih kecil. Beberapa jenis memiliki bentuk berkas telinga yang tegak sehingga terkadang disebut jenis burung hantu bertanduk. Sebagian besar bulu dari famili ini memiliki pola warna abu-abu, coklat, putih, dan hitam yang berfungsi untuk kamuflase saat istirahat siang hari.

Selanjutnya, artikel ini akan membahas jenis-jenis burung hantu yang ada di Indonesia. Berikut adalah daftar lengkap jenis / spesies burung hantu di Indonesia yang disertai gambar. Dalam daftar tersebut dilengkapi juga nama burung hantu dalam nama ilmiah / latin, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, serta dilengkapi status konservasi dan penjelasan singkat.

Famili Tytonidae

1. Tyto alba  (Serak Jawa / Barn Owl)

Memiliki ukuran besar (sekitar 34 cm), dapar dikenali sebagai barung hantu berwarna putih. Warna muka putih dengan bentuk hati dan berukuran lebar. Tubuh bagian atas berwarna kuning bertanda merata, tubuh bagian bawah berwarna putih dengan pola bintik-bintik hitam keseluruhan. Warna pada umumnya bervariasi. Pada burung remaja memiliki warna kuning lebih gelap. 

Salah satu subspesiesnya yakni Tyto alba javanica yang merupakan jenis burung hantu dengan sebaran Jawa, Kalimantan, dan Sumatra. Status konservasi burung hantu meurut IUCN adalah Least Concern (LC) dan Appendix II (perdagangan harus hasil penangkaran).


2. Tyto almae (Serak Seram / Seram Masked Owl)

Burung ini merupakan spesies baru pada tahun 2012 yang ditemukan di Pulau Seram, Maluku. Ciri-ciri burung serak seram memiliki kemiripan secara morfologi dengan serak kecil. Perbedaan utama yakni pada detil pola corak bulu di bagian perut yang  memiliki warna kuning tua, sedangkan pada serak kecil memilki warna putih. 

Pada bagian mahkota dan tengkuk memiliki corak warna garis putih, yang mana pada spesies serak yang lain umumnya berbentuk dua palang atau corak hati. Ekor burung serak seram memiliki warna coklat keemasan dengan palang-palang hitam yang hampir tidak memiliki bercak, sedangkan pada serak kecil memiliki bercak pada bagian palangnya.


3. Tyto inexspectata (Serak Minahasa / Minahassa Masked Owl)

Termasuk jenis burung hantu langka dengan ukuran besar (30 cm). Pada lempeng muka berwarna merah-karat terang. Tubuh bagian sisi atas berwarna merah-karat serta hitam tanpa bintik putih, sedangkan tubuh bagian sisi bawah berwarna merah karat terang dengan pola bintik hitam.

Habitat burung ini endemik di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Status konservasi IUCN  kategori rentan (VU) dan termasuk Appendix II,






4. Tyto longimembris (Serak Padang / Eastern Grass-Owl)

Bagian atas berwarna coklat gelap atau cokelat dengan bintik-bintik pucat. Memiliki pola bar hitam dan cokelat pada sayapnya dan paruh pucat, kaki berbulu, mata coklat gelap.  Ukuran panjang jantan dewasa dari 32-38 cm, betina yang lebih besar dapat mengukur dari 35-42 cm. Lebar sayap lebih dari 100-116 cm.

Di Indonesia, penyebarannya di Sulawesi, NTB, dan Papua. Status konservasi IUCN kategori Resiko Rendah (LC) dan masuk Appendix II.





5. Tyto nigrobrunnea (Serak Taliabu / Taliabu Masked Owl)


Ukuran 32 cm. Piringan muka berwarna coklat kemerah-jambuan, bagian sekitar mata gelap. Tubuh bagian sisi atas berwarna gelap, dan tubuh bagian bawah berwarna coklat keemasan dengan pola bintik hitam.

Termasuk burung endemik di Taliabu, Kepulauan Sula. Status konservasi IUCN  ketegori Terancam dengan Perdagangan internasional: Appendix II.







6. Tyto novaehollandiae (Serak Australia / Australian Masked Owl)

Ukuran sangat besar (41 cm). Bagian punggung dan sayap berwarna abu-abu gelap, memiliki banyak pola bercak putih dan hitam. Bagian tubuh bawah dan muka berwarna putih, terkadang ada warna coklat muda. Garis luar piringan muka dibatasi dengan garis gelap tebal.

Penyebarannya di Indonesia berada di Papua bagian selatan. Status konservasi IUCN masuk dalam daftar: Resiko Rendah (LC) dan Perdagangan internasional: Appendix II.





7. Tyto rosenbergii (Serak Sulawesi / Sulawesi Masked Owl)

Ukuran besar (43-46 cm). Piringan muka berwarna putih agak gelap dengan tepi gelap, mahkota abu-abu. Bagian sisi bawah tubuh berwarna abu-bau kecoklatan pucat dengan pola bintik kehitaman, bagian sisi tubuh atas berwarna coklat abu-abu dan agak gelap. Ekor memiliki palang tebal.

Termasuk burung endemik di Sub-Kawasan Sulawesi, yakni di Sangihe dan Banggai. Terdiri dari dua subspesies, yakni T. r. rosenbergii dan T. r. pelengensis. Status konservasi IUCN kategori Resiko Rendah (LC) dan masuk ke dalam Appendix II.




8. Tyto sororcula (Serak Kecil Moluccan / Masked Owl)

Ukuran sedang (29 cm). Piringan muka bertepi berwarna gelap, bagian tubuh sisi atas terdapat pola totol. Pada subspesies cayelii, warna seluruh tubuh lebih didominasi kuning kecoklatan, bagian tubuh sisi atas lebih hitam.

Burung hantu ini endemik di Maluku selatan dan NTT. Terdiri dari dua subspesies, yakni T. s. sororcula dengan penyebaran di Pulau Seram dan T. s. cayelii dengan penyebaran di Kepulauan Tanimbar. Status IUCN masih kekurangan data (data deficient) dan status perdagangan appendix II.




9. Tyto tenebricosa (Serak Hitam / Greater Sooty Owl)

Ukuran besar (36 cm). Burung ini merupakan satu-satunya serak yang  memiliki warna abu-abu jelaga di Papua. Warna mata hitam besar, ukuran sayap lebar dan membulat. Kaki besar, berbulu lebat serta dilengkapi dengan cakar yang kuat. Pada individu betina mirip jantan, namun memiliki ukuran lebih besar. Subspesies T. t. arfaki memiliki ukuran lebih kecil, warna gelap pada bagian tubuh sisi bawah dan lebih bervariasi.

Status konservasi IUCN yakni Resiko Rendah (LC) dan status Perdagangan internasional Appendix II.




10. Phodilus badius (Serak Bukit / Oriental Bay Owl)

Ukuran sedang (27 cm). Memiliki warna coklat kemerahan. Tampilan mirip sperti Serak Jawa yang memiliki bentuk muka seperti hati dan terkadang memiliki struktur seperti “telinga” tegak. Tubuh bagian sisi atas berwarna coklat kemerahan dengan pola bintik-bintik hitam dan putih. Tubuh bagian sisi bawah berwarna kuning kemerah-jambuan dengan pola bintik hitam, piringan muka berwarna kemerah-jambuan.

Penyebarannya di Sunda Besar, Kep. Natuna, Nias, dan Belitung. Status konservasi IUCN termasuk Resiko Rendah (LC) dan status perdagangan internasional Appendix II.




Famili Strigidae 

11. Bubo sumatranus (Beluk Jampuk / Barred Eagle-Owl)


Ukuran besar (45 cm). Memili pola garis-garis tebal. Warna bulu abu-abu tua dengan berkas telinga tegak yang mencolok. Sisi tubuh bagian atas berwarna coklat kehitaman dan memiliki garis kuning tua halus seluruhnya, warna alis putih. Sisi tubuh bagian bawah berwarna abu-abu keputih-putihan,  dengan garis hitam tebal, warna paruh kuning, dan warna kaki kuning pucat.

Terdapat dua subspesies, yakni B. s. sumatranus yang berada di Sumatra dan B. s. strepitans yang berada di Kalimantan, Jawa dan Bali.

Status konservasi IUCN: Resiko Rendah (LC) dan Perdagangan internasional : Appendix II.


12. Glaucidium brodiei (Beluk-watu Gunung / Collared Owlet)


Ukuran sangat kecil (16 cm). Tubuh memiliki garis-garis. Warna mata kuning dan kerah pucat, tidak punya cuping telinga. Tubuh bagian sisi atas berwarna coklat muda, memiliki garis warna kuning kemerahan. Mahkota berwarna abu-abu, terdapat bintik mata kecil putih / kemerahan, terdapat garis coklat yang melintang pada bagian tenggorokan yang putih. Warna dada dan perut kuning dengan garis hitam, paha dan tungging berwarna putih bercoret coklat.

Di Indonesia terdapat dua subspesies yakni G.b. peritum  yang berada di Sumatera dan G.b. borneense yang berada di Kalimantan. Status konservasi IUCN masuk dalam Resiko Rendah (LC) dan status Perdagangan internasional: Appendix II.

13. Glaucidium castanopterum (Beluk-watu Jawa / Javan Owlet)

Burung ini termasuk endemik Jawa dan Bali. Ukuran tubuh kecil (24 cm), dengan warna coklat merah-bata. Seluruh bagian tubuh memiliki garis-garis, tidak memiliki berkas telinga. Sisi tubuh bagian atas berwarna merah bata dan memiliki garis kuning tua dengan garis terputus pada bagian pinggir skapular. Sisi tubuh bagian bawah sebagian berwarna besar coklat dan  memiliki garis kuning tua, keputih-putihan dengan sisi tubuh coklat berangan. Garis tenggorokan berwarna putih dengan bercak coklat dan kuning di bawahnya (ciri yang mencolok).

Status konservasi IUCN masuk dalam daftar Resiko Rendah (LC) dan Status Perdagangan internasional : Appendix II.

Selanjutnya >>>

Mekanisme Potensial Aksi dan Potensial Membran Sel

Salah satu bagian sel yang terdapat dibagian luar adalah membran sel. Bagian ini berfungsi sebagai barier atau pembatas antara sel dengan lingkungan luarnya. Selain fungsi utama sebagai pembungkus, membran juga berfungsi sebagai filter yang sangat selektif, alat untuk transport aktif, mengontrol masuknya nutrien dan keluarnya hasil metabolisme, menjaga konsentrasi ion di luar sel dan juga sebagai sensor untuk sinyal yang terdapat di luar sel.

Komponen penyusun membran sel ini terdiri dari fosfolipid, protein, oligosakarida, glikolipid, dan kolesterol. Ada tiga macam molekul lipid yang terdapat pada membran, yaitu phospolipid, cholesterol, dan glicolipid. Fungsi dari ketiga lipid tersebut adalah sebagai fungsi membran yang berperan dalam fungsinya untuk peka terhadap molekul air (hidrophilic dan hidrophopbic). Gugus protein kebnayakan terdapat dalam lipid bilayer, yang berfungsi sebagai transport aktif molekul tertentu, sebagai enzim yang berfungsi untuk mengkatalis, serta juga dapat menjadi penghubung struktur membran plasma dengan sitoskeleton atau matriks dengan sel yang berdekatan.

Spesifikasi komponen penyusun membran sel yang banyak berkaitan dengan fungsi transport zat, banyak menciptakan lalu lintas membran. Lalu lintas membran digolongkan menjadi dua cara yaitu dengan cara transport pasif untuk memindahkan molekul tanpa mekanisme khusus dan transport aktif untuk memindahkan molekul dengan mekanisme khusus (dengan bantuan beberapa fungsi protein).

Sebagian besar fungsi transport ini akan menghasilkan aktivitas sel dimana aktivitas sel ini akan berfokus pada keadaan polarisasi menjadi depolarisasi dan kembali ke polarisasi lagi disertai dengan terjadinya perubahan pada potensil membran sel. Perubahan tersebut juga dapat mengakibatkan berubahnya keadaan kenegatifan dari sebuah membran sel, perubahan tersebut dapat berubah dari negatif berubah menjadi positif dan kemudian kembali ke negatif lagi. Perubahan tersebut akan menghasilkan impuls tegangan yang dinamakan potensial aksi. Mekanisme potensial aksi adalah sebagai berikut:



Tahap Polarisasi
Meruapakan tahapan potensial membran istirahat sebelum adanya potensial aksi. Pada membran negatif sebesar -900 mV. Pada sebuah sel meskipun dalam keadaan istirahat masih terdapat beda potensial diantara kedua sisi membran

Tahap Depolarisasi
Bila sel yang istirahat diberi rangsangan dengan level yang cukup maka sel tersebut akan berubah ke keadaan aktif. Dalam keadaan aktif potensial membran sel mengalami perubahan dari negatif menjadi positif di sisi dalam. Keadaan inilah yang dinamakan depolarisasi. Kejadian ini dimulai dari satu titik di permukaan membran dan akan merambat ke seluruh permukaan membran.

Pada tahap ini membran sangat permeabel sangat reaktif terhadap ion Na+ sehingga kanal Na+ terbuka sehingga Na+ akan masuk kedalam sehingga potensial membran meningkat sehingga terjadi overshoot jika potensial berada diatas 0.

Tahap Repolarisasi
Dalam keadaan repolarisasi, potensial membran berubah dari positif di sisi dalam menuju kembali ke negatif di sisi dalam. Tahapan Repolarisasi diawali dari suatu titik dan merambat ke seluruh permukaan membran sel. Bila seluruh membran sel sudah bermuatan negatif di sisi dalam, maka dikatakan sel dalam keadaan istirahat atau keadaan polarisai kembali dan siap untuk menerima rangsangan berikutnya.

Pada tahap ini kanal Na+ mulai tertutup, kanal ion K+ terbuka dan ion K+ keluar sehingga membran potensial kembali ke fase istirahat.

Tahap Hiperpolarisasi
Jika repolarisasi berlebihan, keadaan potensial membran berada di bawah nilai normal sehinggan ion Na+ dan K+, kembali pada keadaan normal dan membran sudah selesai melakukan transport zat.


Penulis: Andrei Suprayogi

RATUSAN Penemuan Spesies Baru di Indonesia Sepanjang 2018



Indonesia merupakan negara dengan tingkat keanekaragaman yang sangat tinggi. Tak heran jika penemuan spesies baru di Indonesia tiap tahunnya selalu bermunculan. Penemuan spesies baru tahun 2018 setidaknya ada 120 spesies, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2017 yang jumlahnya lebih dari 270 spesies baru. Silahkan baca di: Daftar Jurnal Spesies Baru di Indonesia Tahun 2017.

Berdasarkan penelusuran jurnal penelitian ilmiah oleh tim dari Yayasan Generasi Biologi Indonesia, spesies baru 2018 sangat bervariasi mulai dari jenis hewan baru di indonesia dan termasuk tumbuhan serta mikroba. Spesies baru di dunia yang belum dikenal tersebut telah dipublikasikan oleh para saintis melalui berbagai jurnal penelitian ilmiah.

Penemuan Spesies baru di dunia termasuk di Indonesia merupakan hasil penelitian yang telah dikaji melalui berbagai proses untuk menentukan apakah spesies tersebut dikategorikan baru. Karakter untuk menentukan spesies baru bisa dilakukan melalui pendekatan morfologi, molekuler atau keduanya. Berikut adalah daftar spesies baru selama tahun 2018.

Invertebrata

  1. Alionchis jailoloensis (Gastropoda), ditemukan di Halmahera
  2. Haminoea edmundsi (Gastropoda), ditemukan di Ambon
  3. Mourgona anisti (Gastropoda), ditemukan di Ambon
  4. Thecidellina mawaliana (Brachiopoda), ditemukan di Sulawesi Utara
  5. Aliaporcellana spongicola (Crustacea), ditemukan di Sulawesi
  6. Cirolana bambang (Crustacea), ditemukan di Bitung Sulawesi Utara
  7. Metacirolana mioskon (Crustacea), ditemukan di Raja Ampat
  8. Occulthusa halimun (Crustacea), ditemukan di TN Halimun Salak, Jawa Barat
  9. Cirolana fasfes (Crustacea), ditemukan di Raja Ampat
  10. Cirolana lembeh (Crustacea), ditemukan di Sulawesi Utara 
  11. Metacirolana lombok (Crustacea), ditemukan di Teluk Mentigi, Lombok
  12. Odontonia plurellicola (Crustacea), ditemukan di Ternate
  13. Odontonia bagginsi (Crustacea), ditemukan di Tidore
  14. Cherax alyciae (Crustacea), ditemukan di Papua Barat
  15. Cherax mosessalossa (Crustacea), ditemukan di Sorong, Papua
  16. Karstarma malang (Crustacea), ditemukan di Malang, Jawa Timur
  17. Acrophylla bhaskarai (Insecta: Phasmatodea), ditemukan di Pulau Larat, Maluku
  18. Coleolissus biakensis (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Biak, Papua
  19. Pseudocistelopsis jakli (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Kalimantan
  20. Baeocera inoptata (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan
  21. Scaphobaeocera jirkai (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan
  22. Scaphisoma flavolineatum (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan
  23. Scaphisoma sumpichi (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan
  24. Scaphisoma pellax (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan
  25. Scaphisoma versicoloreum (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan
  26. Scaphisoma carinatum (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Maros, Sulawesi Selatan
  27. Scaphisoma ancora (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Palu, Sulawesi Tengah
  28. Scaphisoma hulai (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Palu, Sulawesi Tengah
  29. Scaphisoma ogawai (Insecta: Coleoptera), ditemukan di TN Lore Lindu, Sulawesi Tengah
  30. Agrilus pubinotus (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Pulau Sumba
  31. Agrilus siberuticola (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Pulau Siberut
  32. Tmesisternus digoelae (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Papua
  33. Tmesisternus ramues (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Papua
  34. Tmesisternus cooribus (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Papua
  35. Strongylophthalmyia biloba (Insecta: Diptera), ditemukan di Sumatra
  36. Strongylophthalmyia bukittinggiana (Insecta: Diptera), ditemukan di Sumatra
  37. Manota ashleyi (Insecta: Diptera), ditemukan di Sulawesi Utara
  38. Manota axillata (Insecta: Diptera), ditemukan di Sulawesi Utara
  39. Manota loriculata (Insecta: Diptera), ditemukan di Sulawesi Utara
  40. Manota spathigera (Insecta: Diptera), ditemukan di Sulawesi Utara
  41. Lichtwardtia zhangae (Insecta: Diptera), ditemukan di Bali
  42. Drosophila (Dudaica) gracilipalpis (Insecta: Diptera), ditemukan di Bogor, Jawa Barat
  43. Drosophila (Dudaica) albipalpis (Insecta: Diptera), ditemukan di Gunung Halimun, Jawa Barat
  44. Mesambria intermedia (Insecta: Orthoptera), ditemukan di TN Lore Lindu, Sulawesi Tengah
  45. Chitaura linduensis (Insecta: Orthoptera), ditemukan di Sulawesi Tengah
  46. Chitaura doloduo (Insecta: Orthoptera), ditemukan di Sulawesi Utara
  47. Drepanosticta draco (Insecta: Odonata), ditemukan di Sumatra Utara
  48. Aenetus sumatraensis (Insecta: Lepidoptera), ditemukan di Aceh
  49. Ernolatia invicema (Insecta: Lepidoptera), ditemukan di Palopo, Sulawesi Selatan
  50. Ernolatia callirhoe (Insecta: Lepidoptera), ditemukan di Gunung Sampuraga, Sulawesi Selatan
  51. Ernolatia fumidiflora (Insecta: Lepidoptera), ditemukan di Flores, NTT
  52. Ernolatia doris (Insecta: Lepidoptera), ditemukan di Sumba, NTB
  53. Thaumaina aquamarina (Insecta: Lepidoptera), ditemukan di Gunung Jayawijaya, Papua
  54. Agapophyta kmenti (Insecta: Hemiptera), ditemukan di Pulau Tanimbar
  55. Drabescus stilliformis (Insecta: Hemiptera), ditemukan di Sulawesi Utara
  56. Drabescus viraktamathi (Insecta: Hemiptera), ditemukan di Pulau Seram, Maluku
  57. Phyllium (Phylliumletiranti (Insecta: Phasmida), ditemukan di Pulau Peleng, Sulawesi Tengah
  58. Paradiplectanotrema klimpelis (Platyhelminthes), ditemukan di Bali
  59. Bucephalus damriyasai (Platyhelminthes), ditemukan di Bali
  60. Circulocryptus javanicus (Diplopoda), ditemukan di Gunung Salak, Jawa Barat
  61. Cylindrodesmus telnovorum (Diplopoda), ditemukan di Gunung Salak, Jawa Barat
  62. Dolichodectes latilobus (Arachnida: Acarina), ditemukan di Kalimantan Timur
  63. Althepus hongguangi (Arachnida), ditemukan di Palopo, Sulawesi
  64. Althepus qianhuang (Arachnida), ditemukan di Yogyakarta
  65. Althepus sepakuensis (Arachnida), ditemukan di Kalimantan Timur
  66. Althepus yizhuang (Arachnida), ditemukan di Sumatra Barat
  67. Gunabopicobia lathami (Arachnida), ditemukan di Papua
  68. Parasesarma gracilipes (Arachnida), ditemukan di Papua
  69. Parasesarma tarantula (Arachnida), ditemukan di Sulawesi Utara
  70. Aposphragisma globosum (Arachnida), ditemukan di Harapan, Sumatra
  71. Aposphragisma jambi (Arachnida), ditemukan di Bukit Duabelas, Sumatra
  72. Aposphragisma sumatra (Arachnida), ditemukan di Harapan, Sumatra
  73. Labiobulura lengguruensis (Nematoda), ditemukan di Lengguru, Papua Barat
  74. Paralabiostrongylus tuberis (Nematoda), ditemukan di Lengguru, Papua Barat
  75. Dorcopsinema amplum (Nematoda), ditemukan di Lengguru, Papua Barat
  76. Mycale (Oxymycale) klausjanusorum (Porifera), ditemukan di Flores

     



    Vertebrata

    1. Phylloscopus rotiensis (Aves), Pulau Rote, NTT
    2. Sumaterana crassiovis (Amphibia), ditemukan di Kerinci, Sumatra
    3. Sumaterana montana (Amphibia), ditemukan di Bengkulus, Sumatra
    4. Pulchrana fantastica (Amphibia), ditemukan di Aceh
    5. Megophrys lancip (Amphibia), ditemukan di Pegunungan Bukit Barisan, Sumatra
    6. Leptophryne javanica (Amphibia), ditemukan di Gunung Slamet, Jawa Tengah
    7. Leptobrachella fusca (Amphibia), ditemukan di Kalimantan Utara
    8. Leptobrachella bondangensis (Amphibia), ditemukan di Kalimantan Tengah
    9. Cirrhilabrus cyanogularis (Pisces), ditemukan di Sulawesi
    10. Parmaturus nigripalatum (Pisces), ditemukan di Sumbawa
    11. Neobythites lombokensis (Pisces), ditemukan di Lombok
    12. Lobocheilos aurolineatus (Pisces), ditemukan di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur
    13. Schismatogobius sapoliensis (Pisces), ditemukan di Halmahera
    14. Ostichthys alamai (Pisces), ditemukan di Manado
    15. Sebastiscus vibrantus (Pices), ditemukan di Bali 
    16. Pomacentrus bellipictus (Pisces), ditemukan di Papua Barat
    17. Oryzias dopingdopingensis (Pisces), ditemukan di Sulawesi Tengah
    18. Minous groeneveldi (Pisces), ditemukan di Bali
    19. Parupeneus inayatae (Pisces), ditemukan di Lombok
    20. Eviota maculosa (Pisces), ditemukan di Sumbawa, NTB
    21. Cyrtodactylus tahuna (Reptilia), ditemukan di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara
    22. Lophocalotes achlios (Reptilia), ditemukan di Pegunungan Bukit Barisan, Sumatra
    23. Cylindrophis osheai (Reptilia), ditemukan di Maluku





    Tumbuhan

    1. Aquilaria macrocarpa (Thymelaeaceae), ditemukan di Malinau Kalimantan Utara
    2. Aquilaria malinensis (Thymelaeaceae), ditemukan di Malinau Kalimantan Utara
    3. Aquilaria Lepidotta (Thymelaeaceae), ditemukan di Malinau Kalimantan Utara
    4. Begonia balgooyi (Begoniaceae), ditemukan di Sulawesi Tenggara
    5. Begonia matarombeoensis (Begoniaceae), ditemukan di Sulawesi Tenggara
    6. Begonia curvifolia (Begoniaceae), ditemukan di Sumatra Barat
    7. Begonia ocellata (Begoniaceae), ditemukan di Sumatra Barat
    8. Calamus tadulakoensis (Arecaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    9. Cyrtandra albiflora (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    10. Cyrtandra boliohutensis (Gesneriaceae), ditemukan di Gorontalo
    11. Cyrtandra gambutensis (Gesneriaceae), ditemukan di Gorontalo dan Sulawesi Utara
    12. Cyrtandra hekensis (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    13. Cyrtandra hendrianii (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    14. Cyrtandra hispidula (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Selatan
    15. Cyrtandra kinhoii (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Utara
    16. Cyrtandra multinervis (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    17. Cyrtandra nitida (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    18. Cyrtandra rantemarioensis (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Selatan
    19. Cyrtandra rubribracteata (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    20. Nepenthes biak (Nepenthaceae), ditemukan di Biak, Papua

      Mikroba

      Streptomyces sp. Strain SHP22-7, strain baru dari Pulau Enggano


      Penulis: Mh Badrut Tamam

      Mekanisme Resistensi Bakteri Terhadap Logam Berat Kromium

      Sistem penerima sinyal pada bakteri yang tergolong organisme tingkat rendah masih dikategorikan sederhana jika dibandingkan dengan organisme tingkat tinggi dengan perangkat sistem saraf yang lebih kompleks seperti pada hewan. Oleh karena itu, cara respons bakteri terhadap faktor lingkungan di sekitar akan berbeda.

      Respon hewan ketika berada pada kondisi berbahaya akan berpindah ke tempat yang lebih aman. Hal ini tidak berlaku bagi bakteri yang memiliki kemampuan pergerakan yang lebih sempit. Bakteri akan melakukan serangkaian aktivitas untuk mengurangi dampaknya. Sebagai contoh, kedua makhluk hidup ini berada di sekitar kawasan lahan bekas tambang yang memiliki kandungan logam berat kromium (Cr) sangat tinggi dan bersifat toksik.

      Ciri khas daerah terkontaminasi logam berat Cr (VI) salah satunya yaitu tidak ditemukannya tumbuhan yang tumbuh subur dan cenderung berukuran kerdil. Hewan kelompok herbivora akan berada dalam status kelaparan jika terus berada di kawasan ini. Pesan yang disampaikan oleh lingkungan ini dihantarkan oleh sistem saraf pada hewan untuk menghasilkan respon berpindah mencari daerah yang lebih hijau. Bakteri yang wilayah habitatnya di permukaan maupun di dalam tanah akan mengalami kontak langsung dengan Cr(VI). Kondisi tersebut memicu bakteri melakukan serangkaian pertahanan mulai dari saat Cr(VI) berada di depan membran sel sampai ketika Cr(VI) sudah masuk ke dalam sel bakteri.

      Mekanisme pemindahan, resistensi dan reduksi Cr(VI) di dalam sel bakteri. (a) sistem transpor sulfat yang juga digunakan sebagai jalur masuk Cr(VI) ke dalam sel. (b) Reduksi Cr(VI) menjadi Cr (III) yang lebih ramah lingkungan secara ekstraseluler, di mana kromium tidak melewati membran sel. (c) Enzim kromat reduktase yang terikat dengan membran sel. (d) Reduksi Cr(VI) menjadi Cr (III) secara intraseluler, akan tetapi dapat memicu stres oksidatif yang menyebabkan kerusakan protein dan DNA. (e) Pengeluaran Cr(VI) dari sitoplasma dengan bantuan protein ChrA. (f) Enzim pendetoksifikasi untuk melindungi sel dari stres oksidatif. (g) Sistem perbaikan DNA terhadap kerusakan yang dipicu oleh kromium. (Joutey et al., 2015).


      Pertahanan bakteri terhadap Cr(VI) meliputi kemampuan resistensi dan reduksi. Resistensi terhadap Cr(VI) di antaranya kemampuan bakteri mengeluarkan Cr(VI) melalui protein channel yaitu sistem transpor sulfat yang tertanam di membran sel. Protein channel tersebut dapat digunakan Cr(VI) sebagai jalur masuk ketika dalam bentuk kromat (CrO42-) yang menyerupai sulfat (SO42-). Kromat (CrO42-) yang masuk akan dikeluarkan langsung melalui sistem transpor sulfat. CrO42- juga dapat masuk ke dalam sel bakteri ketika konsentrasinya terlampau tinggi. CrO42- yang masuk ke dalam sel masih dapat diantisipasi melalui sistem efflux di mana CrO42- dikeluarkan dari sitoplasma menuju protein channel yang ada di membran sel yaitu ChrA.

      Mekanisme reduksi bakteri berbeda dengan resistensi dalam hal kemampuannya mengubah Cr(VI) menjadi Cr(III) yang memiliki tingkat toksisitas lebih rendah. Tahapan reduksi Cr(VI) umumnya melibatkan peran enzim kromat reduktase yang dapat bersifat induktif (diproduksi ketika ada pemicu Cr(VI)) atau konstitutif (diproduksi terus-menerus).

      Lokasi kerja enzim kromat reduktase juga digolongkan menjadi tiga yaitu di sitoplasma sel (intraseluler), terikat dengan membran sel, dan di luar sel (ekstraseluler). Alur reaksi enzimatik yang terjadi di sitoplasma sel (intraseluler) berawal ketika CrO42- yang masuk ke dalam sel berubah menjadi bentuk awal yaitu Cr(VI). Sinyal berupa Cr(VI) yang bersifat berbahaya ini direspon oleh sel bakteri dengan memproduksi enzim kromat reduktase. Selama proses reduksi Cr(VI) di dalam sel tersebut dapat memicu stres oksidatif karena Cr(VI) merupakan radikal bebas. Stres tersebut dapat diatasi dengam enzim yang bersifat antioksidan seperti glutation katalase.

      Reaksi enzimatik ke dua yaitu yang berikatan dengan membran. Mekanisme kerja enzim kromat reduktase di membran yaitu ketika Cr(VI) berada di permukaan sel bakteri dan akan direduksi menjadi Cr(III). Reaksi enzimatik juga dapat terjadi secara ekstraseluler ketika sel menerima sinyal keberadaan CrVI) di sekitar. Sel akan mengeluarkan enzim kromat reduktase ke lingkungan dan mengubah Cr(VI) menjadi Cr(III). Cr(III) tergolong ramah lingkungan karena tingkat kelarutannya di dalam air lebih rendah sehingga mobilitasnya untuk menginvasi makhluk hidup lain juga rendah.

      Berdasarkan berbagai kemampuan bakteri dalam melakukan pertahanan terhadap Cr(VI), reduksi secara ekstraseluler tergolong mekanisme yang paling efektif bagi bakteri untuk bertahan hidup. Hal ini didasarkan pada kemampuan bakteri mencegah masuknya Cr(VI) ke dalam sel dan mampu mengubahnya menjadi Cr(III) langsung di lingkungan.

      Penulis: Aisyah

      Referensi: Joutey, N. T., H. et al. 2015. Mechanisms of Hexavalent Chromium Resistance and Removal by Microorganisms. Springer International Publishing Switzerland.