55 Jenis Burung Hantu di Indonesia TERBARU


Burung Hantu adalah kelompok burung yang masuk dalam ordo Strigiformes. Ciri-ciri burung hantu secara umum yakni kelompok burung yang memiliki kepala dengan ukuran besar dan bulat, ukuran mata besar dan menghadap ke depan, bulu tubuhnya yang tersusun secara radial, memiliki ukuran lubang telinga relatif lebar, akan tetapi seringkali tertutupi oleh lipatan kulit, ukuran paruh relatif pendek; cakar jari kaki yang tajam untuk mencengkeram. Burung hantu dapat terbang tanpa suara karena memiliki sayap dengan bulu-bulu yang halus. 

Berdasarkan data dari Catalogue of Life, di dunia ada 199 jenis burung hantu dan 55 jenis diantaranya adalah jenis burung hantu asli indonesia. Sebagian besar sarang berupa lubang pada pohon kadang di lubang bangunan, aktif pada waktu malam hari (nocturnal), dan bersifat predator. Semua jenis burung hantu memiliki telur berwarna putih. Ordo burung hantu (Strigiformes) dibagi menjadi dua famili/suku,  yakni Tytonidae (burung serak) dan Strigidae (burung hantu sejati).

Famili (Suku) Tytonidae adalah kelompok burung serak dengan ciri-ciri famili muka berbentuk hati (love) dan sangat bulat serta mata gelap. Piringan muka lebar yang memiliki fungsi untuk memfokuskan suara ke telinga saat berburu. Bulu sayap lembut sehingga tidak terdengar ketika terbang. Suranya berupa pekikan parau (serak).

Famili (Suku) Strigidae adalah kelompok burung hantu sejati dengan ciri-ciri mirip famili Tytonidae namun ukuran kakinya lebih pendek dan piringan muka lebih kecil. Beberapa jenis memiliki bentuk berkas telinga yang tegak sehingga terkadang disebut jenis burung hantu bertanduk. Sebagian besar bulu dari famili ini memiliki pola warna abu-abu, coklat, putih, dan hitam yang berfungsi untuk kamuflase saat istirahat siang hari.

Selanjutnya, artikel ini akan membahas jenis-jenis burung hantu yang ada di Indonesia. Berikut adalah daftar lengkap jenis / spesies burung hantu di Indonesia yang disertai gambar. Dalam daftar tersebut dilengkapi juga nama burung hantu dalam nama ilmiah / latin, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, serta dilengkapi status konservasi dan penjelasan singkat.

Famili Tytonidae

1. Tyto alba  (Serak Jawa / Barn Owl)

Memiliki ukuran besar (sekitar 34 cm), dapar dikenali sebagai barung hantu berwarna putih. Warna muka putih dengan bentuk hati dan berukuran lebar. Tubuh bagian atas berwarna kuning bertanda merata, tubuh bagian bawah berwarna putih dengan pola bintik-bintik hitam keseluruhan. Warna pada umumnya bervariasi. Pada burung remaja memiliki warna kuning lebih gelap. 

Salah satu subspesiesnya yakni Tyto alba javanica yang merupakan jenis burung hantu dengan sebaran Jawa, Kalimantan, dan Sumatra. Status konservasi burung hantu meurut IUCN adalah Least Concern (LC) dan Appendix II (perdagangan harus hasil penangkaran).


2. Tyto almae (Serak Seram / Seram Masked Owl)

Burung ini merupakan spesies baru pada tahun 2012 yang ditemukan di Pulau Seram, Maluku. Ciri-ciri burung serak seram memiliki kemiripan secara morfologi dengan serak kecil. Perbedaan utama yakni pada detil pola corak bulu di bagian perut yang  memiliki warna kuning tua, sedangkan pada serak kecil memilki warna putih. 

Pada bagian mahkota dan tengkuk memiliki corak warna garis putih, yang mana pada spesies serak yang lain umumnya berbentuk dua palang atau corak hati. Ekor burung serak seram memiliki warna coklat keemasan dengan palang-palang hitam yang hampir tidak memiliki bercak, sedangkan pada serak kecil memiliki bercak pada bagian palangnya.


3. Tyto inexspectata (Serak Minahasa / Minahassa Masked Owl)

Termasuk jenis burung hantu langka dengan ukuran besar (30 cm). Pada lempeng muka berwarna merah-karat terang. Tubuh bagian sisi atas berwarna merah-karat serta hitam tanpa bintik putih, sedangkan tubuh bagian sisi bawah berwarna merah karat terang dengan pola bintik hitam.

Habitat burung ini endemik di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Status konservasi IUCN  kategori rentan (VU) dan termasuk Appendix II,






4. Tyto longimembris (Serak Padang / Eastern Grass-Owl)

Bagian atas berwarna coklat gelap atau cokelat dengan bintik-bintik pucat. Memiliki pola bar hitam dan cokelat pada sayapnya dan paruh pucat, kaki berbulu, mata coklat gelap.  Ukuran panjang jantan dewasa dari 32-38 cm, betina yang lebih besar dapat mengukur dari 35-42 cm. Lebar sayap lebih dari 100-116 cm.

Di Indonesia, penyebarannya di Sulawesi, NTB, dan Papua. Status konservasi IUCN kategori Resiko Rendah (LC) dan masuk Appendix II.





5. Tyto nigrobrunnea (Serak Taliabu / Taliabu Masked Owl)


Ukuran 32 cm. Piringan muka berwarna coklat kemerah-jambuan, bagian sekitar mata gelap. Tubuh bagian sisi atas berwarna gelap, dan tubuh bagian bawah berwarna coklat keemasan dengan pola bintik hitam.

Termasuk burung endemik di Taliabu, Kepulauan Sula. Status konservasi IUCN  ketegori Terancam dengan Perdagangan internasional: Appendix II.







6. Tyto novaehollandiae (Serak Australia / Australian Masked Owl)

Ukuran sangat besar (41 cm). Bagian punggung dan sayap berwarna abu-abu gelap, memiliki banyak pola bercak putih dan hitam. Bagian tubuh bawah dan muka berwarna putih, terkadang ada warna coklat muda. Garis luar piringan muka dibatasi dengan garis gelap tebal.

Penyebarannya di Indonesia berada di Papua bagian selatan. Status konservasi IUCN masuk dalam daftar: Resiko Rendah (LC) dan Perdagangan internasional: Appendix II.





7. Tyto rosenbergii (Serak Sulawesi / Sulawesi Masked Owl)

Ukuran besar (43-46 cm). Piringan muka berwarna putih agak gelap dengan tepi gelap, mahkota abu-abu. Bagian sisi bawah tubuh berwarna abu-bau kecoklatan pucat dengan pola bintik kehitaman, bagian sisi tubuh atas berwarna coklat abu-abu dan agak gelap. Ekor memiliki palang tebal.

Termasuk burung endemik di Sub-Kawasan Sulawesi, yakni di Sangihe dan Banggai. Terdiri dari dua subspesies, yakni T. r. rosenbergii dan T. r. pelengensis. Status konservasi IUCN kategori Resiko Rendah (LC) dan masuk ke dalam Appendix II.




8. Tyto sororcula (Serak Kecil Moluccan / Masked Owl)

Ukuran sedang (29 cm). Piringan muka bertepi berwarna gelap, bagian tubuh sisi atas terdapat pola totol. Pada subspesies cayelii, warna seluruh tubuh lebih didominasi kuning kecoklatan, bagian tubuh sisi atas lebih hitam.

Burung hantu ini endemik di Maluku selatan dan NTT. Terdiri dari dua subspesies, yakni T. s. sororcula dengan penyebaran di Pulau Seram dan T. s. cayelii dengan penyebaran di Kepulauan Tanimbar. Status IUCN masih kekurangan data (data deficient) dan status perdagangan appendix II.




9. Tyto tenebricosa (Serak Hitam / Greater Sooty Owl)

Ukuran besar (36 cm). Burung ini merupakan satu-satunya serak yang  memiliki warna abu-abu jelaga di Papua. Warna mata hitam besar, ukuran sayap lebar dan membulat. Kaki besar, berbulu lebat serta dilengkapi dengan cakar yang kuat. Pada individu betina mirip jantan, namun memiliki ukuran lebih besar. Subspesies T. t. arfaki memiliki ukuran lebih kecil, warna gelap pada bagian tubuh sisi bawah dan lebih bervariasi.

Status konservasi IUCN yakni Resiko Rendah (LC) dan status Perdagangan internasional Appendix II.




10. Phodilus badius (Serak Bukit / Oriental Bay Owl)

Ukuran sedang (27 cm). Memiliki warna coklat kemerahan. Tampilan mirip sperti Serak Jawa yang memiliki bentuk muka seperti hati dan terkadang memiliki struktur seperti “telinga” tegak. Tubuh bagian sisi atas berwarna coklat kemerahan dengan pola bintik-bintik hitam dan putih. Tubuh bagian sisi bawah berwarna kuning kemerah-jambuan dengan pola bintik hitam, piringan muka berwarna kemerah-jambuan.

Penyebarannya di Sunda Besar, Kep. Natuna, Nias, dan Belitung. Status konservasi IUCN termasuk Resiko Rendah (LC) dan status perdagangan internasional Appendix II.




Famili Strigidae 

11. Bubo sumatranus (Beluk Jampuk / Barred Eagle-Owl)

Ukuran besar (45 cm). Memili pola garis-garis tebal. Warna bulu abu-abu tua dengan berkas telinga tegak yang mencolok. Sisi tubuh bagian atas berwarna coklat kehitaman dan memiliki garis kuning tua halus seluruhnya, warna alis putih. Sisi tubuh bagian bawah berwarna abu-abu keputih-putihan,  dengan garis hitam tebal, warna paruh kuning, dan warna kaki kuning pucat.

Terdapat dua subspesies, yakni B. s. sumatranus yang berada di Sumatra dan B. s. strepitans yang berada di Kalimantan, Jawa dan Bali.

Status konservasi IUCN: Resiko Rendah (LC) dan Perdagangan internasional : Appendix II.


12. Glaucidium brodiei (Beluk-watu Gunung / Collared Owlet)

Ukuran sangat kecil (16 cm). Tubuh memiliki garis-garis. Warna mata kuning dan kerah pucat, tidak punya cuping telinga. Tubuh bagian sisi atas berwarna coklat muda, memiliki garis warna kuning kemerahan. Mahkota berwarna abu-abu, terdapat bintik mata kecil putih / kemerahan, terdapat garis coklat yang melintang pada bagian tenggorokan yang putih. Warna dada dan perut kuning dengan garis hitam, paha dan tungging berwarna putih bercoret coklat.

Di Indonesia terdapat dua subspesies yakni G.b. peritum  yang berada di Sumatera dan G.b. borneense yang berada di Kalimantan. Status konservasi IUCN masuk dalam Resiko Rendah (LC) dan status Perdagangan internasional: Appendix II.

13. Glaucidium castanopterum (Beluk-watu Jawa / Javan Owlet)

Burung ini termasuk endemik Jawa dan Bali. Ukuran tubuh kecil (24 cm), dengan warna coklat merah-bata. Seluruh bagian tubuh memiliki garis-garis, tidak memiliki berkas telinga. Sisi tubuh bagian atas berwarna merah bata dan memiliki garis kuning tua dengan garis terputus pada bagian pinggir skapular. Sisi tubuh bagian bawah sebagian berwarna besar coklat dan  memiliki garis kuning tua, keputih-putihan dengan sisi tubuh coklat berangan. Garis tenggorokan berwarna putih dengan bercak coklat dan kuning di bawahnya (ciri yang mencolok).

Status konservasi IUCN masuk dalam daftar Resiko Rendah (LC) dan Status Perdagangan internasional : Appendix II.

Selanjutnya >>>

Mekanisme Potensial Aksi dan Potensial Membran Sel

Salah satu bagian sel yang terdapat dibagian luar adalah membran sel. Bagian ini berfungsi sebagai barier atau pembatas antara sel dengan lingkungan luarnya. Selain fungsi utama sebagai pembungkus, membran juga berfungsi sebagai filter yang sangat selektif, alat untuk transport aktif, mengontrol masuknya nutrien dan keluarnya hasil metabolisme, menjaga konsentrasi ion di luar sel dan juga sebagai sensor untuk sinyal yang terdapat di luar sel.

Komponen penyusun membran sel ini terdiri dari fosfolipid, protein, oligosakarida, glikolipid, dan kolesterol. Ada tiga macam molekul lipid yang terdapat pada membran, yaitu phospolipid, cholesterol, dan glicolipid. Fungsi dari ketiga lipid tersebut adalah sebagai fungsi membran yang berperan dalam fungsinya untuk peka terhadap molekul air (hidrophilic dan hidrophopbic). Gugus protein kebnayakan terdapat dalam lipid bilayer, yang berfungsi sebagai transport aktif molekul tertentu, sebagai enzim yang berfungsi untuk mengkatalis, serta juga dapat menjadi penghubung struktur membran plasma dengan sitoskeleton atau matriks dengan sel yang berdekatan.

Spesifikasi komponen penyusun membran sel yang banyak berkaitan dengan fungsi transport zat, banyak menciptakan lalu lintas membran. Lalu lintas membran digolongkan menjadi dua cara yaitu dengan cara transport pasif untuk memindahkan molekul tanpa mekanisme khusus dan transport aktif untuk memindahkan molekul dengan mekanisme khusus (dengan bantuan beberapa fungsi protein).

Sebagian besar fungsi transport ini akan menghasilkan aktivitas sel dimana aktivitas sel ini akan berfokus pada keadaan polarisasi menjadi depolarisasi dan kembali ke polarisasi lagi disertai dengan terjadinya perubahan pada potensil membran sel. Perubahan tersebut juga dapat mengakibatkan berubahnya keadaan kenegatifan dari sebuah membran sel, perubahan tersebut dapat berubah dari negatif berubah menjadi positif dan kemudian kembali ke negatif lagi. Perubahan tersebut akan menghasilkan impuls tegangan yang dinamakan potensial aksi. Mekanisme potensial aksi adalah sebagai berikut:



Tahap Polarisasi
Meruapakan tahapan potensial membran istirahat sebelum adanya potensial aksi. Pada membran negatif sebesar -900 mV. Pada sebuah sel meskipun dalam keadaan istirahat masih terdapat beda potensial diantara kedua sisi membran

Tahap Depolarisasi
Bila sel yang istirahat diberi rangsangan dengan level yang cukup maka sel tersebut akan berubah ke keadaan aktif. Dalam keadaan aktif potensial membran sel mengalami perubahan dari negatif menjadi positif di sisi dalam. Keadaan inilah yang dinamakan depolarisasi. Kejadian ini dimulai dari satu titik di permukaan membran dan akan merambat ke seluruh permukaan membran.

Pada tahap ini membran sangat permeabel sangat reaktif terhadap ion Na+ sehingga kanal Na+ terbuka sehingga Na+ akan masuk kedalam sehingga potensial membran meningkat sehingga terjadi overshoot jika potensial berada diatas 0.

Tahap Repolarisasi
Dalam keadaan repolarisasi, potensial membran berubah dari positif di sisi dalam menuju kembali ke negatif di sisi dalam. Tahapan Repolarisasi diawali dari suatu titik dan merambat ke seluruh permukaan membran sel. Bila seluruh membran sel sudah bermuatan negatif di sisi dalam, maka dikatakan sel dalam keadaan istirahat atau keadaan polarisai kembali dan siap untuk menerima rangsangan berikutnya.

Pada tahap ini kanal Na+ mulai tertutup, kanal ion K+ terbuka dan ion K+ keluar sehingga membran potensial kembali ke fase istirahat.

Tahap Hiperpolarisasi
Jika repolarisasi berlebihan, keadaan potensial membran berada di bawah nilai normal sehinggan ion Na+ dan K+, kembali pada keadaan normal dan membran sudah selesai melakukan transport zat.


Penulis: Andrei Suprayogi

RATUSAN Penemuan Spesies Baru di Indonesia Sepanjang 2018



Indonesia merupakan negara dengan tingkat keanekaragaman yang sangat tinggi. Tak heran jika penemuan spesies baru di Indonesia tiap tahunnya selalu bermunculan. Penemuan spesies baru tahun 2018 setidaknya ada 120 spesies, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2017 yang jumlahnya lebih dari 270 spesies baru. Silahkan baca di: Daftar Jurnal Spesies Baru di Indonesia Tahun 2017.

Berdasarkan penelusuran jurnal penelitian ilmiah oleh tim dari Yayasan Generasi Biologi Indonesia, spesies baru 2018 sangat bervariasi mulai dari jenis hewan baru di indonesia dan termasuk tumbuhan serta mikroba. Spesies baru di dunia yang belum dikenal tersebut telah dipublikasikan oleh para saintis melalui berbagai jurnal penelitian ilmiah.

Penemuan Spesies baru di dunia termasuk di Indonesia merupakan hasil penelitian yang telah dikaji melalui berbagai proses untuk menentukan apakah spesies tersebut dikategorikan baru. Karakter untuk menentukan spesies baru bisa dilakukan melalui pendekatan morfologi, molekuler atau keduanya. Berikut adalah daftar spesies baru selama tahun 2018.

Invertebrata

  1. Alionchis jailoloensis (Gastropoda), ditemukan di Halmahera
  2. Haminoea edmundsi (Gastropoda), ditemukan di Ambon
  3. Mourgona anisti (Gastropoda), ditemukan di Ambon
  4. Thecidellina mawaliana (Brachiopoda), ditemukan di Sulawesi Utara
  5. Aliaporcellana spongicola (Crustacea), ditemukan di Sulawesi
  6. Cirolana bambang (Crustacea), ditemukan di Bitung Sulawesi Utara
  7. Metacirolana mioskon (Crustacea), ditemukan di Raja Ampat
  8. Occulthusa halimun (Crustacea), ditemukan di TN Halimun Salak, Jawa Barat
  9. Cirolana fasfes (Crustacea), ditemukan di Raja Ampat
  10. Cirolana lembeh (Crustacea), ditemukan di Sulawesi Utara 
  11. Metacirolana lombok (Crustacea), ditemukan di Teluk Mentigi, Lombok
  12. Odontonia plurellicola (Crustacea), ditemukan di Ternate
  13. Odontonia bagginsi (Crustacea), ditemukan di Tidore
  14. Cherax alyciae (Crustacea), ditemukan di Papua Barat
  15. Cherax mosessalossa (Crustacea), ditemukan di Sorong, Papua
  16. Karstarma malang (Crustacea), ditemukan di Malang, Jawa Timur
  17. Acrophylla bhaskarai (Insecta: Phasmatodea), ditemukan di Pulau Larat, Maluku
  18. Coleolissus biakensis (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Biak, Papua
  19. Pseudocistelopsis jakli (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Kalimantan
  20. Baeocera inoptata (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan
  21. Scaphobaeocera jirkai (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan
  22. Scaphisoma flavolineatum (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan
  23. Scaphisoma sumpichi (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan
  24. Scaphisoma pellax (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan
  25. Scaphisoma versicoloreum (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan
  26. Scaphisoma carinatum (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Maros, Sulawesi Selatan
  27. Scaphisoma ancora (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Palu, Sulawesi Tengah
  28. Scaphisoma hulai (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Palu, Sulawesi Tengah
  29. Scaphisoma ogawai (Insecta: Coleoptera), ditemukan di TN Lore Lindu, Sulawesi Tengah
  30. Agrilus pubinotus (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Pulau Sumba
  31. Agrilus siberuticola (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Pulau Siberut
  32. Tmesisternus digoelae (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Papua
  33. Tmesisternus ramues (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Papua
  34. Tmesisternus cooribus (Insecta: Coleoptera), ditemukan di Papua
  35. Strongylophthalmyia biloba (Insecta: Diptera), ditemukan di Sumatra
  36. Strongylophthalmyia bukittinggiana (Insecta: Diptera), ditemukan di Sumatra
  37. Manota ashleyi (Insecta: Diptera), ditemukan di Sulawesi Utara
  38. Manota axillata (Insecta: Diptera), ditemukan di Sulawesi Utara
  39. Manota loriculata (Insecta: Diptera), ditemukan di Sulawesi Utara
  40. Manota spathigera (Insecta: Diptera), ditemukan di Sulawesi Utara
  41. Lichtwardtia zhangae (Insecta: Diptera), ditemukan di Bali
  42. Drosophila (Dudaica) gracilipalpis (Insecta: Diptera), ditemukan di Bogor, Jawa Barat
  43. Drosophila (Dudaica) albipalpis (Insecta: Diptera), ditemukan di Gunung Halimun, Jawa Barat
  44. Mesambria intermedia (Insecta: Orthoptera), ditemukan di TN Lore Lindu, Sulawesi Tengah
  45. Chitaura linduensis (Insecta: Orthoptera), ditemukan di Sulawesi Tengah
  46. Chitaura doloduo (Insecta: Orthoptera), ditemukan di Sulawesi Utara
  47. Drepanosticta draco (Insecta: Odonata), ditemukan di Sumatra Utara
  48. Aenetus sumatraensis (Insecta: Lepidoptera), ditemukan di Aceh
  49. Ernolatia invicema (Insecta: Lepidoptera), ditemukan di Palopo, Sulawesi Selatan
  50. Ernolatia callirhoe (Insecta: Lepidoptera), ditemukan di Gunung Sampuraga, Sulawesi Selatan
  51. Ernolatia fumidiflora (Insecta: Lepidoptera), ditemukan di Flores, NTT
  52. Ernolatia doris (Insecta: Lepidoptera), ditemukan di Sumba, NTB
  53. Thaumaina aquamarina (Insecta: Lepidoptera), ditemukan di Gunung Jayawijaya, Papua
  54. Agapophyta kmenti (Insecta: Hemiptera), ditemukan di Pulau Tanimbar
  55. Drabescus stilliformis (Insecta: Hemiptera), ditemukan di Sulawesi Utara
  56. Drabescus viraktamathi (Insecta: Hemiptera), ditemukan di Pulau Seram, Maluku
  57. Phyllium (Phylliumletiranti (Insecta: Phasmida), ditemukan di Pulau Peleng, Sulawesi Tengah
  58. Paradiplectanotrema klimpelis (Platyhelminthes), ditemukan di Bali
  59. Bucephalus damriyasai (Platyhelminthes), ditemukan di Bali
  60. Circulocryptus javanicus (Diplopoda), ditemukan di Gunung Salak, Jawa Barat
  61. Cylindrodesmus telnovorum (Diplopoda), ditemukan di Gunung Salak, Jawa Barat
  62. Dolichodectes latilobus (Arachnida: Acarina), ditemukan di Kalimantan Timur
  63. Althepus hongguangi (Arachnida), ditemukan di Palopo, Sulawesi
  64. Althepus qianhuang (Arachnida), ditemukan di Yogyakarta
  65. Althepus sepakuensis (Arachnida), ditemukan di Kalimantan Timur
  66. Althepus yizhuang (Arachnida), ditemukan di Sumatra Barat
  67. Gunabopicobia lathami (Arachnida), ditemukan di Papua
  68. Parasesarma gracilipes (Arachnida), ditemukan di Papua
  69. Parasesarma tarantula (Arachnida), ditemukan di Sulawesi Utara
  70. Aposphragisma globosum (Arachnida), ditemukan di Harapan, Sumatra
  71. Aposphragisma jambi (Arachnida), ditemukan di Bukit Duabelas, Sumatra
  72. Aposphragisma sumatra (Arachnida), ditemukan di Harapan, Sumatra
  73. Labiobulura lengguruensis (Nematoda), ditemukan di Lengguru, Papua Barat
  74. Paralabiostrongylus tuberis (Nematoda), ditemukan di Lengguru, Papua Barat
  75. Dorcopsinema amplum (Nematoda), ditemukan di Lengguru, Papua Barat
  76. Mycale (Oxymycale) klausjanusorum (Porifera), ditemukan di Flores

     



    Vertebrata

    1. Phylloscopus rotiensis (Aves), Pulau Rote, NTT
    2. Sumaterana crassiovis (Amphibia), ditemukan di Kerinci, Sumatra
    3. Sumaterana montana (Amphibia), ditemukan di Bengkulus, Sumatra
    4. Pulchrana fantastica (Amphibia), ditemukan di Aceh
    5. Megophrys lancip (Amphibia), ditemukan di Pegunungan Bukit Barisan, Sumatra
    6. Leptophryne javanica (Amphibia), ditemukan di Gunung Slamet, Jawa Tengah
    7. Leptobrachella fusca (Amphibia), ditemukan di Kalimantan Utara
    8. Leptobrachella bondangensis (Amphibia), ditemukan di Kalimantan Tengah
    9. Cirrhilabrus cyanogularis (Pisces), ditemukan di Sulawesi
    10. Parmaturus nigripalatum (Pisces), ditemukan di Sumbawa
    11. Neobythites lombokensis (Pisces), ditemukan di Lombok
    12. Lobocheilos aurolineatus (Pisces), ditemukan di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur
    13. Schismatogobius sapoliensis (Pisces), ditemukan di Halmahera
    14. Ostichthys alamai (Pisces), ditemukan di Manado
    15. Sebastiscus vibrantus (Pices), ditemukan di Bali 
    16. Pomacentrus bellipictus (Pisces), ditemukan di Papua Barat
    17. Oryzias dopingdopingensis (Pisces), ditemukan di Sulawesi Tengah
    18. Minous groeneveldi (Pisces), ditemukan di Bali
    19. Parupeneus inayatae (Pisces), ditemukan di Lombok
    20. Eviota maculosa (Pisces), ditemukan di Sumbawa, NTB
    21. Cyrtodactylus tahuna (Reptilia), ditemukan di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara
    22. Lophocalotes achlios (Reptilia), ditemukan di Pegunungan Bukit Barisan, Sumatra
    23. Cylindrophis osheai (Reptilia), ditemukan di Maluku





    Tumbuhan

    1. Aquilaria macrocarpa (Thymelaeaceae), ditemukan di Malinau Kalimantan Utara
    2. Aquilaria malinensis (Thymelaeaceae), ditemukan di Malinau Kalimantan Utara
    3. Aquilaria Lepidotta (Thymelaeaceae), ditemukan di Malinau Kalimantan Utara
    4. Begonia balgooyi (Begoniaceae), ditemukan di Sulawesi Tenggara
    5. Begonia matarombeoensis (Begoniaceae), ditemukan di Sulawesi Tenggara
    6. Begonia curvifolia (Begoniaceae), ditemukan di Sumatra Barat
    7. Begonia ocellata (Begoniaceae), ditemukan di Sumatra Barat
    8. Calamus tadulakoensis (Arecaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    9. Cyrtandra albiflora (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    10. Cyrtandra boliohutensis (Gesneriaceae), ditemukan di Gorontalo
    11. Cyrtandra gambutensis (Gesneriaceae), ditemukan di Gorontalo dan Sulawesi Utara
    12. Cyrtandra hekensis (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    13. Cyrtandra hendrianii (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    14. Cyrtandra hispidula (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Selatan
    15. Cyrtandra kinhoii (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Utara
    16. Cyrtandra multinervis (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    17. Cyrtandra nitida (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    18. Cyrtandra rantemarioensis (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Selatan
    19. Cyrtandra rubribracteata (Gesneriaceae), ditemukan di Sulawesi Tengah
    20. Nepenthes biak (Nepenthaceae), ditemukan di Biak, Papua

      Mikroba

      Streptomyces sp. Strain SHP22-7, strain baru dari Pulau Enggano


      Penulis: Mh Badrut Tamam

      Plastik Berbahan Sagu yang Dapat Dikonsumsi



      Plastik dipilih sebagai pembungkus makanan karena kelebihannya antara lain tahan terhadap air dan mikroorganisme sehingga makanan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi, kekurangan pembungkus plastik yang menjadi persoalan sekarang ini adalah pemakaian plastik yang hanya sekali dan harus dibuang serta pertambahan volume sampah plastik seiring bertambahnya jumlah masyarakat yang mengkonsumsi makanan berbungkus plastik. Proses degradasi plastik secara alami membutuhkan waktu yang lama.

      Proses degradasi akan semakin bertambah lama seiring produksi plastik yang terus dilakukan terus-menerus. Produksi plastik di dunia per tahun dapat mencapai 100 juta ton untuk keperluan di segala sektor mulai dari skala industri sampai penggunaan pribadi. Konsumsi dalam negeri sebesar 2% dari total seluruh dunia, akan tetapi dampak yang ditimbulkan sangat nyata. Kemampuan tanah dalam menyerap air berlebih terutama ketika intensitas banjir lebih tinggi menjadi terhambat karena adanya tumpukan sampah. Fenomena banjir menjadi bersifat umum.

      Produksi plastik berbahan poliester yang tidak dapat didegradasi dengan cepat harus dikendalikan dengan menghasilkan plastik dari bahan yang lebih ramah lingkungan. Bahan organik dapat menjadi solusi alternatif dengan kelebihannya yang mampu didegradasi oleh mikroba di tanah dan dijadikan sebagai bahan untuk biodegradable plastic.

      Biodegradable plastic yang berasal dari bahan organik terutama tumbuhan tergolong berlimpah, aman dikonsumsi, dan dapat menjadi salah satu pilihan cadangan untuk menghemat penggunaan plastik di muka bumi. Salah satu bahan biodegradable plastic yang dapat dimanfaatkan yaitu pati limbah sagu.

      Sagu (Metroxylon sagu, Rottb) merupakan salah satu tanaman tertua yang digunakan oleh masyarakat di Asia Tenggara dan Oseania. Keberadaan sagu di dunia mencapai luas 2 juta hektar dan memiliki kemampuan produksi sekitar 2,5-5,5 ton pati sagu kering per hektar. Indonesia dengan kekayaan sagu yang melimpah dan mencapai 60% dari total yang ada di dunia berpotensi dalam pemanfaatan sagu.

      Ampas sagu sebagai limbah dari pengolahan sagu memiliki kandungan karbohidrat dan bahan organik lainnya yang tinggi. Sagu meskipun telah menjadi ampas masih mengandung pati yang cukup tinggi yaitu 64.6%. Ampas sagu seperti limbah pada umumnya akan terbuang dan dapat mencemari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pengolahan ampas sagu untuk biodegradable plastic dapat menghambat dua pencemaran sekaligus yaitu plastik dan limbah sagu tersebut.

      Proses bioplastik yang dapat dilakukan meliputi ekstraksi pati limbah sagu dilanjutkan dengan pencampuran bahan penguat plasticizer gliserol dan cross linker asam sitrat (sebagai pengikat pati dan gliserol) yang akan menghasilkan bioplastik kuat dan bersifat edible (dapat dikonsumsi).

      Bioplastik juga dapat diubah menjadi sebuah plastik yang menarik dan digunakan oleh masyarakat dengan menambahkan pewarna alami yang juga sangat aman dikonsumsi. Bioplastik yang sudah berwarna-warni ini dapat menjadi pembungkus berbagai macam panganan, khususnya panganan tradisional khas Kalimantan Selatan yang masih menggunakan plastik dalam kemasannya seperti kue dodol Kandangan, klepon buntut Martapura, kue dadar gulung dan lain-lain.


      Penulis: Aisyah

      Referensi:
      1. Gumbira, S.E., D. Mangunwidjaya, A. Darmako dan Suprasono. 1996. Produksi asetonbutanol- etanol dari substrat hidrolisat pati sagu dan onggok tapioca hasil hidrolisis enzimatis. Prosiding Simposium Nasional III. Pekanbaru, Riau, 27-28 Februari 1996.
      2. Hasibuan, M. 2009. Pembuatan Film Layak Makan Dari Pati Sagu Menggunakan Bahan Pengisi Serbuk Batang Sagu dan Gliserol Sebagai Plasticizer. Tesis. Program Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara, Medan.
      3. Utomo, W.H., dkk. 2013. Pengaruh Suhu dan Lama Pengeringan Terhadap Karakteristik Fisikokimiawi Plastik Biodegradable dari Komposit Pati Lidah Buaya (Aloe Vera)-Kitosan. Jurnal Bioproses Komoditas Tropis. 1(1) : 73-79.


      Mekanisme Resistensi Bakteri Terhadap Logam Berat Kromium

      Sistem penerima sinyal pada bakteri yang tergolong organisme tingkat rendah masih dikategorikan sederhana jika dibandingkan dengan organisme tingkat tinggi dengan perangkat sistem saraf yang lebih kompleks seperti pada hewan. Oleh karena itu, cara respons bakteri terhadap faktor lingkungan di sekitar akan berbeda.

      Respon hewan ketika berada pada kondisi berbahaya akan berpindah ke tempat yang lebih aman. Hal ini tidak berlaku bagi bakteri yang memiliki kemampuan pergerakan yang lebih sempit. Bakteri akan melakukan serangkaian aktivitas untuk mengurangi dampaknya. Sebagai contoh, kedua makhluk hidup ini berada di sekitar kawasan lahan bekas tambang yang memiliki kandungan logam berat kromium (Cr) sangat tinggi dan bersifat toksik.

      Ciri khas daerah terkontaminasi logam berat Cr (VI) salah satunya yaitu tidak ditemukannya tumbuhan yang tumbuh subur dan cenderung berukuran kerdil. Hewan kelompok herbivora akan berada dalam status kelaparan jika terus berada di kawasan ini. Pesan yang disampaikan oleh lingkungan ini dihantarkan oleh sistem saraf pada hewan untuk menghasilkan respon berpindah mencari daerah yang lebih hijau. Bakteri yang wilayah habitatnya di permukaan maupun di dalam tanah akan mengalami kontak langsung dengan Cr(VI). Kondisi tersebut memicu bakteri melakukan serangkaian pertahanan mulai dari saat Cr(VI) berada di depan membran sel sampai ketika Cr(VI) sudah masuk ke dalam sel bakteri.

      Mekanisme pemindahan, resistensi dan reduksi Cr(VI) di dalam sel bakteri. (a) sistem transpor sulfat yang juga digunakan sebagai jalur masuk Cr(VI) ke dalam sel. (b) Reduksi Cr(VI) menjadi Cr (III) yang lebih ramah lingkungan secara ekstraseluler, di mana kromium tidak melewati membran sel. (c) Enzim kromat reduktase yang terikat dengan membran sel. (d) Reduksi Cr(VI) menjadi Cr (III) secara intraseluler, akan tetapi dapat memicu stres oksidatif yang menyebabkan kerusakan protein dan DNA. (e) Pengeluaran Cr(VI) dari sitoplasma dengan bantuan protein ChrA. (f) Enzim pendetoksifikasi untuk melindungi sel dari stres oksidatif. (g) Sistem perbaikan DNA terhadap kerusakan yang dipicu oleh kromium. (Joutey et al., 2015).


      Pertahanan bakteri terhadap Cr(VI) meliputi kemampuan resistensi dan reduksi. Resistensi terhadap Cr(VI) di antaranya kemampuan bakteri mengeluarkan Cr(VI) melalui protein channel yaitu sistem transpor sulfat yang tertanam di membran sel. Protein channel tersebut dapat digunakan Cr(VI) sebagai jalur masuk ketika dalam bentuk kromat (CrO42-) yang menyerupai sulfat (SO42-). Kromat (CrO42-) yang masuk akan dikeluarkan langsung melalui sistem transpor sulfat. CrO42- juga dapat masuk ke dalam sel bakteri ketika konsentrasinya terlampau tinggi. CrO42- yang masuk ke dalam sel masih dapat diantisipasi melalui sistem efflux di mana CrO42- dikeluarkan dari sitoplasma menuju protein channel yang ada di membran sel yaitu ChrA.

      Mekanisme reduksi bakteri berbeda dengan resistensi dalam hal kemampuannya mengubah Cr(VI) menjadi Cr(III) yang memiliki tingkat toksisitas lebih rendah. Tahapan reduksi Cr(VI) umumnya melibatkan peran enzim kromat reduktase yang dapat bersifat induktif (diproduksi ketika ada pemicu Cr(VI)) atau konstitutif (diproduksi terus-menerus).

      Lokasi kerja enzim kromat reduktase juga digolongkan menjadi tiga yaitu di sitoplasma sel (intraseluler), terikat dengan membran sel, dan di luar sel (ekstraseluler). Alur reaksi enzimatik yang terjadi di sitoplasma sel (intraseluler) berawal ketika CrO42- yang masuk ke dalam sel berubah menjadi bentuk awal yaitu Cr(VI). Sinyal berupa Cr(VI) yang bersifat berbahaya ini direspon oleh sel bakteri dengan memproduksi enzim kromat reduktase. Selama proses reduksi Cr(VI) di dalam sel tersebut dapat memicu stres oksidatif karena Cr(VI) merupakan radikal bebas. Stres tersebut dapat diatasi dengam enzim yang bersifat antioksidan seperti glutation katalase.

      Reaksi enzimatik ke dua yaitu yang berikatan dengan membran. Mekanisme kerja enzim kromat reduktase di membran yaitu ketika Cr(VI) berada di permukaan sel bakteri dan akan direduksi menjadi Cr(III). Reaksi enzimatik juga dapat terjadi secara ekstraseluler ketika sel menerima sinyal keberadaan CrVI) di sekitar. Sel akan mengeluarkan enzim kromat reduktase ke lingkungan dan mengubah Cr(VI) menjadi Cr(III). Cr(III) tergolong ramah lingkungan karena tingkat kelarutannya di dalam air lebih rendah sehingga mobilitasnya untuk menginvasi makhluk hidup lain juga rendah.

      Berdasarkan berbagai kemampuan bakteri dalam melakukan pertahanan terhadap Cr(VI), reduksi secara ekstraseluler tergolong mekanisme yang paling efektif bagi bakteri untuk bertahan hidup. Hal ini didasarkan pada kemampuan bakteri mencegah masuknya Cr(VI) ke dalam sel dan mampu mengubahnya menjadi Cr(III) langsung di lingkungan.

      Penulis: Aisyah

      Referensi: Joutey, N. T., H. et al. 2015. Mechanisms of Hexavalent Chromium Resistance and Removal by Microorganisms. Springer International Publishing Switzerland.

      Perbedaan Rusa dan Kijang Secara Ilmiah

      Apa perbedaan rusa dan kijang? Dalam ilmu taksonomi, rusa dan kijang masih dikelompokkan dalam satu famili yakni Cervidae. Di Indonesia, famili rusa ada 6 jenis yakni: 
      1. Rusa Totol (Axis axis)
      2. Rusa Bawean (Axis kuhlii)
      3. Rusa Timor (Cervus timorensis)
      4. Rusa Sambar (Cervus unicolor)
      5. Kijang Kuning (Muntiacus atherodes)
      6. Kijang Muncak (Muntiacus muntjak).

      Jadi, secara ilmu biologi sebenarnya hewan-hewan tersebut masih termasuk rusa. Ciri dari famili cervidae yakni merupakan mamalia ruminansia yang memiliki ranggah (sebutan lain dari tanduk). Penamaan lokal yang membedakan istilah rusa dan kijang. Dalam Bahasa Inggris, famili cervidae disebut "deer" sedangkan di Indonesia genus Cervus dan Axis disebut "rusa" sementara genus Muntiacus dinamakan "kijang". Penggunaan istilah menjangan juga digunakan untuk menyebut rusa.


      perbedaan rusa dan kijang berbeda, perbedaan kijang dan rusa, perbedaan rusa dan kijang hewan  perbedaan rusa kijang dan kancil, perbedaan rusa kijang dan menjangan, perbedaan rusa sama kijang, perbedaan tanduk rusa dan kijang, beda rusa vs kijang

      Berdasarkan sistematika, famili Cervidae terdiri dari dua subfamili, yakni Cervinae dan Capreolinae. Di Indonesia sendiri hanya ada subfamili Cervinae yang terdiri dari dua tribe, Muntiacini (Kijang) dan Cervini (Rusa). Kijang di Indonesia hanya ada 1 genus yang terdiri dari 2 spesies sementara Rusa ada 2 genus yang terdiri dari 4 spesies. Selanjutnya, artikel ini akan menjelaskan apa perbedaan dari tribe rusa dan kijang. Berikut penjelasannya!


      Ranggah
      Ranggah (antler) berbeda dengan tanduk (horn), keduanya berbeda dalam hal komponen dan sifat pertumbuhan. Ranggah adalah sebuah jaringan tulang yang tumbuh ke luar anggota tubuh, mengeras, meluruh, dan tumbuh kembali secara terus menerus. Sedangkan tanduk berbahan dasar keratin dan akan terus menempel tanpa mengalami siklus.

      Rusa dan kijang jantan memiliki bentuk ranggah yang berbeda. Ranggah rusa memiliki tiga cabang sedangkan kijang memiliki satu atau dua cabang ranggah.

      Perbandingan panjang ranggah dengan kepala: ranggah rusa lebih panjang daripada ukuran kepalanya sedangkan ranggah kijang relatif lebih pendek dari ukuran kepalanya.

      Perbedaan ranggah (antler) pada rusa dan kijang

      Ukuran Tubuh
      Kijang memiliki ukuran tubuh lebih kecil ( kurang dari 10-40 kg), sementara rusa memiliki ukuran lebih besar

      Gigi Taring
      Kijang memiliki gigi caninus atas lebih panjang sehingga menjadi taring. Adapun gigi caninus atas rusa ukurannya pendek.

      Tengkorak kijang (atas) dan rusa (bawah).
      Kijang memiliki gigi taring (http://www.skullsite.co.uk)



      Referensi:
      1. Christian Pitra et al. 2004. Evolution and phylogeny of old world deer. Molecular Phylogenetics and Evolution, 33: 880-895.
      2. Groves C.P. and P. Grubb. 1982. The species of muntjac (genus Muntiacus) in Borneo: unrecognised sympatry in tropical deer, Zoologische Mededelingen 56

      11 Jenis Ular Hijau di Indonesia

      Ular merupakan satwa yang bagi sebagian orang dianggap hewan yang berbahaya. Hewan reptil ini sering dijumpai di berbagai tempat bahkan di perkotaan. Di Indonesia, ada sekitar 350 lebih jenis ular namun yang berbisa mematikan tidak lebih dari 20%. Meskipun demikian, sebagian besar orang awam akan menganggap ular sebagai hewan yang harus dihindari bahkan tak jarang juga dibunuh.

      Kasus gigitan ular biasanya terjadi pada petani, hobis, peneliti, atau siapapun akibat bersinggungan dengan ular. Banyak orang yang kurang beruntung ketika digigit ular berbisa tinggi sering berujung pada kematian. Oleh karena itu, kemampuan untuk mengidentifikasi jenis ular adalah hal dasar agar dapat dilakukan tindakan selanjutnya.

      Ular hijau di Indonesia seringkali dijumpai di hutan, semak, pepohonan, bahkan bisa juga masuk ke dalam rumah. Pengetahuan identifikasi jenis ular hijau yang berbahaya harus tepat, tidak semua sumber di Internet dapat dijadikan rujukan yang valid. Artikel ini akan membahas jenis-jenis ular hijau di Indonesia mulai dari yang berbisa mematikan bagi manusia hingga yang aman bagi manusia. Berikut adalah jenis-jenis ular hijau di Indonesia.


      1. Ular Bangkai Laut (Trimeresurus albolabris)

      ular hijau berbisa, ular hijau kecil, ular hijau masuk rumah, ular hijau pucuk, ular hijau besar, ular hijau kepala segitiga, ular hijau ekor abu abu, ular hijau apakah berbisa, ular anaconda hijau, ular air hijau, ular hijau beranak atau bertelur, angka ular hijau

      Ular ini disebut juga dengan sebutan ular hijau ekor merah. Viper ini termasuk ular hijau BERBISA MEMATIKAN. Sebagian besar kasus gigitan ular di Indonesia disebabkan ular ini. Akibat gigitan ular hijau ekor merah tersebut jika tidak ditangani segera dapat mengakibatkan fatal. Ciri-ciri ular tersebut, yakni:
      • Bentuk kepala segitiga,
      • Warna punggung hijau tua,
      • Perut berwarna hijau muda atau kekuningan,
      • Bibir atas dan bawah berwarna kuning hijau,
      • Mata berwarna kuning,
      • Ekor bagian sisi atas berwarna merah.
      Jenis Bisa: Hemotoksin.

      Penyebaran: Pulau Bangka, Sumatra, Jawa, Madura, Kalimantan, dan Sulawesi.

      2. Trimeresurus insularis

      ular hijau buntut merah, ular hijau berbahaya atau tidak, ular hijau berbuntut merah, ular hijau bahaya atau tidak, ular hijau berbisa tidak, ular hijau coklat, ular cabe hijau, ular hijau ekor coklat, ular hijau vs cobra, ular warna hijau coklat, cara ular hijau beranak, ular kepala hijau badan coklat

      Ular hijau ini sebelumnya dianggap satu jenis dengan ular Trimeresurus albolabris, namun saat ini dibedakan sebagai jenis yang berbeda. Ular hijau berbuntut merah ini termasuk BERBISA MEMATIKAN. Ciri-ciri ular ini mirip dengan Trimeresurus albolabris kecuali berbeda hal seperti warna mata yang merah kecoklatan. Ular ini juga memiliki varian warna selain hijau yakni berwarna biru muda.

      Jenis Bisa: Hemotoksin

      Penyebaran: Adonara, Alor, Bali, Flores, Komodo, Lombok, Padar, Rinca, Romang, Roti, Sumba, Sumbawa, Timor, Wetar, Jawa.

      3. Ular Hageni (Trimeresurus hageni)

      ciri ular hijau yang berbisa, ular hijau daun, ular hijau di indonesia, ular hijau di depan rumah, ular hijau dalam togel, ular hijau dengan ekor merah, ular hijau di rumah, ular hijau di pohon mangga, ular hijau di malam hari, ular hijau di jalan, ular hijau ekor hitam, ular hijau ekor silver

      Ular ini termasuk endemik Asia Tenggara dan merupakan jenis ular hijau BERBISA MEMATIKAN. Jenis ini juga termasuk ular hijau ekor merah. Ciri-ciri ular hageni yakni:
      • Bagian sisi atas berwarna hijau terang atau pucat,
      • Warna kepala sama seperti bagian sisi atas tubuh,
      • Bagian sisi bawah berwarna hijau pucat dan terdapat garis warna putih,
      • Memiliki garis dengan warna merah muda di bagian belakang mata,
      • Ekor berwarna merah.
      Penyebaran: Sumatra, Nias, Simeuleu, Kepulauan Batu, Bangka, dan Mentawai.

      4. Ular Punai Sumatra (Trimeresurus sumatranus)

      ular hijau ekornya merah, ular hijau ekor, bahaya ular hijau ekor merah, foto ular hijau, fakta ular hijau, ular hijau gadung, ular hijau garis kuning, ular hijau garis hitam, ular hijau gelap, ular gonyosoma hijau, ular garis hijau, gambar ular gadung hijau

      Ular hijau ini aktif di malam hari dengan habitat hutan dataran rendah, hutan hujan basah, hutan bakau, ladang perkebunan kopi dan teh. Ular hijau belang hitam ini termasuk BERBISA MEMATIKANCiri-ciri Ular Punai Sumatera, antara lain:
      • Bagian sisi atas berwarna hijau pucat dengan pita garis hitam melintang,
      • Bagian sisi bawah berwarna hijau kecoklatan,
      • Warna buntut merah kecoklatan. 
      Penyebaran: Sumatra, Nias, Simeuleu, Belitung, Bangka, dan Mentawai.


      5. Ular Hijau Gunung (Trimeresurus gunaleni)

      gambar ular hijau, gigitan ular hijau, ular hijau harga, ular berwarna hijau hitam, ular sanca hijau harga, harga ular hijau ekor merah, habitat ular hijau, ular hijau indonesia, ular hijau menjaga koper isi bayi, ular hijau berbisa di indonesia, ular hijau jenis


      Ular ini termasuk jenis baru yang pada awalnya dianggap Ular Punai Sumatra, namun setelah diteliti ternyata terdapat perbedaan. Ular hijau berkepala segitiga ini termasuk BERBISA MEMATIKAN. Ciri-ciri ular hijau gunung, antara lain:
      • Badan ular memanjang dengan bentuk memipih ke arah vertikal,
      • Bagian sisi atas berwarna hijau terang dengan sisik berwarna hitam di sela-selanya,
      • Bagian sisi bawa berwarna hijau kekuningan polos,
      • Mata berwarna hijau kekuningan,
      • Ekor berwarna merah kecoklatan.
      Penyebaran: Sumatra


      6. Tropidolaemus subannulatus

      ular janur hijau, jenis ular hijau yang berbahaya, jenis ular hijau yang tidak berbisa, jenis ular hijau ekor merah, ular hijau kepala kuning, ular hijau kepala segitiga ekor merah, ular hijau kepala hitam, ular hijau kavak, ular hijau kartun, ular hijau kecil pendek, ular hijau lidah merah

      Ular viper ini termasuk aktif di malam hari dan sering berada di pepohonan. Jenis ular ini juga termasuk  BERBISA MEMATIKAN. Ciri-ciri ular tersebut yakni:
      • Badan pendek dan gemuk,
      • Bagian tubuh atas berwarna hijau terang,
      • Bagian tubuh bawah berwarna kuning-kehijauan,
      • Tubuh memiliki motif garis-garis pucat dengan dasar warna putih,
      • Belakang mata terdapat garis berwarna putih dan merah.
      Penyebaran: Kalimantan, Belitung, Sulawesi, Buton, Kepulauan Sangihe.

      7. Ular Punai Wagleri (Tropidolaemus wagleri)

      ular hijau lidah biru, ular hijau laut, ular leher hijau, ular kepala hijau leher merah, ular hijau kepala lancip, ular hijau bangkai laut, ular hijau melahirkan, ular hijau mata merah, ular hijau mematikan, ular hijau masuk rumah pertanda, ular hijau matanya banyak,
      Ular jantan berwarna hijau (atas) dan betina (bawah)

      Ular ini disebut juga bandotan candi merupakan ular dimorfik, dimana bentuk dan warna ular jantan dan betina berbeda. Termasuk ular BERBISA MEMATIKAN. Ular ini memiliki perbedaan warna antara individu jantan dan betina. Ular jantan dan ular yang masih muda memiliki warna hijau. Ciri-ciri ular tersebut, yakni:
      • Ular yang masih muda dan ular jantan memiliki tubuh ramping dan bagian sisi atas berwarna hijau dengan sedikit motif,
      • Terdapat garis ganda yang melewati mata,
      • Ujung ekor memiliki warna coklat kemerahan,
      • Pada ular betina, memiliki tubuh lebih gempal dan bagian sisi atas berwarna gelap dengan bintik-bintik hijau/kuning yang melintang.

      Penyebaran: Sumatra, Bangka, Kepulauan Mentawai, Pulau Natuna, Nias, Riau, dan Kalimantan.

      8. Ular Pucuk (Ahaetulla prasina)

      nama ular hijau, ular kepala hijau leher orange, obat ular hijau, ular hijau pohon, ular hijau paling berbisa, ular hijau putih, ular hijau pendek, ular hijau pohon bambu

      Nama lainnya adalah ular daun yang mudah ditemukan di semak dan pepohonan. Distribusinya cukup luas bahkan dijumpai di perkotaan. Ular ini Berbisa Sedang dan tidak tidak berbahaya bagi manusia. Meskipun demikian, gigitan ular ini dapat menyebabkan bengkak saja. Ciri-ciri ular pucuk antara lain:
      • Tubuh bagian sisi atas memiliki variasi: hijau muda, hijau kecoklatan/keabu-abuan,
      • Saat dalam kondisi terancam, sisik bagian leher akan mengembang dan terlihat warna hitam putih dan biru,
      • Tubuh bagian samping terdapat garis kuning atau putih,
      • Tubuh bagian bawah bewarna hijau,
      • Bentuk kepala panjang dengan moncong meruncing.

      Penyebaran: Sumatra, Jawa, Kalimantan,  Bali, Lombok, Sumbawa, Sulawesi.

      9. Ular Janur (Ahaetulla mycterizans)

      ular hijau pemakan burung, ular hijau raksasa, ular rumput hijau, ular hijau sumatera, ular hijau sawah, ular sanca hijau, ular sawa hijau, ular sanca hijau (morelia viridis), ular sendok hijau, ular sisik hijau

      Ular janur ini mirip dengan ular pucuk. Perbedaannya yakni ular janur memiliki mata relatif lebih besar, tubuh lebih ramping dan tidak memiliki garis kuning di bagian sisi samping tubuhnya.

      Penyebaran: Sumatera dan Jawa

      10. Ular Bajing (Gonyosoma oxycephalum)

      ular hijau terbesar, ular hijau terbesar di dunia, ular hijau tidak beracun, ular hijau tua, ular hijau terang, ular tedung hijau, ular tampar hijau, ular hijau ular putih, ular hijau dan ular putih, ular hijau viper, ular viper hijau ekor merah, ular hijau high venom

      Ular ini hidup di pohon dan aktif pada siang hari. Ular ini TIDAK BERBISA sehingga tidak berbahaya bagi manusia. Bagi orang awam, sekilas ular ini mirip dengan Trimeresurus albolabris yang juga berwarna hijau dan terkadang berekor kemerahan. Hal yang membedakannya adalah bentuk kepalanya yang agak gepeng dan meruncing. Ciri-ciri ular bajing antara lain:
      • Tubuh berwarna hijau dari kepala sampai batas ekor,
      • Bentuk kepala oval
      • Terdapat garis hitam di mata,
      • Ekor memiliki variasi warna seperti merah-jingga, biru-hijau, dan abu-abu

      Penyebaran: Sumatra, Kalimantan, Jawa, Kalimatan, Kepulauan Mentawai, Kepulauan Natuna, dan Ambon.

      11. Sanca Hijau (Morelia viridis)

      gambar ular viper hijau, video ular hijau, video ular hijau ekor merah, ular hijau wikipedia, wallpaper ular hijau, ular hijau wiki, ular warna hijau, ular warna hijau hitam, ular warna hijau ekor merah, ular warna hijau berbisa, ular warna hijau merah, ular hijau yang berbisa, ular hijau yang tidak berbisa, ular hijau yg berbisa, ular hijau yang mematikan


      Ular ini termasuk jenis ular piton yang endemik Papua. Ular ini TIDAK BERBISA, namun ketika agresif akan menyerang dan menggigit. Ciri-ciri ular sanca hijau:
      • Warna bagian sisi atas hijau terang atau kebiruan,
      • Warna bagian sisi bawah kuning pucat atau putih,
      • Warna ular yang masih muda memiliki variasi warna seperti kuning cerah, jingga, dan hijau.

      Penyebaran: Papua dan Pulau Aru


      Dari 11 jenis ular yang telah diuraikan, ular dengan urutan nomor 1 sampai 7 merupakan jenis ular hijau berbisa mematikan. Ular tersebut termasuk ular viper dengan ciri kepala berbentuk segitiga. Sementara ular hijau dengan urutan nomor 8 hingga 11 tidak berbisa mematikan bagi manusia. 

      Referensi:

      1. Budhy Suhono. 1986. Ular-ular Berbisa di Jawa. Penerbit Antar Kota
      2. Riza Marlon. 2014. Panduan Visual dan Identifikasi Lapangan: 107+ Ular Indonesia. Indonesia Nature & Wildlife Publishing.
      3. Indraneil Das. 2018. A Naturalist's Guide to the Snakes of Southeast Asia. John Beaufoy Books
      4. http://reptile-database.reptarium.cz/
      5. Vogel G, David P, and Sidik I. 2014. On Trimeresurus sumatranus (Raffles, 1822), with the designation of a neotype and the description of a new species of pitviper from Sumatra (Squamata: Viperidae: Crotalinae). Amphibian & Reptile Conservation 8 (2): 1–29

      Kirik-kirik Laut: Ciri-ciri, Klasifikasi, dan Penyebaran



      Burung Kirik-kirik Laut (Blue-tailed Bee-eater) adalah burung yang termasuk dalam famili Meropidae dengan nama latin/ilmiah Merops philippinus. Secara etimologi, kata dari nama genus Merops yang artinya "wajah berkilau', sementara nama penunjuk spesies menunjukkan type locality spesies tersebut.

      Ciri-ciri
      Burung ini memiliki ukuran agak besar (30 cm) dan terlihat anggun terutama saat terbang. Bagian mata dilalui dengan strip warna hitam yang dibatasi oleh garis biru di bagian bawah dan di atasnya. 

      Warna bulu di bagian kepala dan mantel hijau; tunggir dan ekor biru; dagu kuning; tenggorokan coklat kemerahan; dada dan perut hijau pucat; sayap bawah jingga (terlihat sewaktu terbang); paruh hitam; iris hitam; kaki cokelat tua.

      Kirik-kirik laut saat terbang (Foto © Agus Azhari).

      Perilaku
      Burung ini memiliki kebiasaan memangsa dengan cara menyambar serangga saat terbang. Serangga yang sering dikonsumsi adalah lebah dan kumbang. Saat berbiak, burung betina bertelur 5-7 butir dengan warna putih membulat.

      Suara
      Suara burung kirik-kirik laut yang dikeluarkan saat terbang: “kwink-kwink, kwink-kwink, kwink-kwink-kwink”.

      Penyebaran
      Pada masa berbiak: Asia Selatan, Sulawesi, Papua, Filipina.
      Pada masa Migrasi: Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

      Klasifikasi
      Kingdom: Animalia
      Filum: Chordata
      Kelas: Aves
      Ordo: Coraciiformes
      Famili: Meropidae
      Genus: Merops
      Spesies: Merops philippinus

      Avibase ID
      809951F0A4498585

      Status Konservasi
      Status IUCN: Resiko Rendah (Least Concern)


      Referensi:
      MacKinnon dkk. 2010. Burung-burung di Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan. LIPI.

      Ciri-ciri, Klasifikasi, dan Perilaku Burung Pelikan

      apakah burung pelikan bisa terbang, tempat hidup burung pelikan, sebutkan ciri khusus burung pelikan, manfaat burung pelikan bagi manusia


      Burung pelikan atau disebut juga burung undan merupakan burung air yang terdiri dari 8 spesies di dunia. Di Indonesia, burung pelikan ada 3 spesies namun burung pelikan yang sering dijumpai adalah Pelikan Australia atau Undan Kacamata dengan nama ilmiah Pelecanus conspicillatus

      Ciri-ciri
      Ciri fisik burung pelikan yakni memiliki ukuran sangat besar (150 cm), dengan didominasi warna bulu putih dan sisanya bulu warna hitam. Berat tubuh antara 4 - 13 kg dengan bentang sayap lebih dari 2 meter. Iris mata berwarna coklat, dan kaki berwarna biru redup.

      Warna paruh merah muda atau kuning dan memiliki kantung paruh. Paruh burung pelikan merupakan paruh terbesar dalam semua kelompok burung di dunia. Fungsi paruh burung pelikan tersebut untuk mencari ikan.

      Perilaku
      Habitat burung pelikan pelikan menyukai kawasan di perairan tawar dan asin, danau dan sungai. Pada umumnya berkelompok namun kadang dijumpai sendirian. Karakteristik tempat hidup burung pelikan ini berupa tumpukan rumput dan serasah di atas permukaan tanah atau pasir. Bersarang secara berkelompok. Jumlah telur 1-4 butir (umumnya 2 butir) dengan ukuran 93 mm x 57 mm.

      Makanan utama burung ini adalah ikan. Burung ini mencari makan dengan cara menyelamkan kepalanya sambil berenang di atas permukaan air. Burung ini bekerja secara berkelompok dengan membentuk barisan untuk menggiring ikan ke tempat yang dangkal. Terkadang burung ini juga dijumpai mencari makan sendirian.


      Suara
      Burung pelikan biasanya pendiam, namun pada masa berbiak memiliki suara “pip-pi-pi” dengan nada tinggi atau bersuara “pep-pep-perr” dengan nada rendah.

      Penyebaran
      Asal burung pelikan tersebut berasal dari Australia dan Tasmania. Burung ini juga tersebar meluas ke utara, hingga ke Papua serta ke Indonesia bagian barat dan Pasifik bagian barat daya. Pada waktu musim dingin, mereka berkunjung sampai Jawa dan Sumatera.

      Klasifikasi
      Kingdom: Animalia
      Filum: Chordata
      Kelas: Aves
      Ordo: Pelecaniformes
      Famili: Pelecanidae
      Genus: Pelecanus
      Spesies: Pelecanus conspicillatus


      Status Konservasi
      Status IUCN: Resiko Redah (Least Concern)


      Status di Indonesia: UU No. 5/1990, PP No. 7/1999, Permen LHK No. P.20 / 2018


      Referensi:

      1. Jr., John B. Dunning. 2007. CRC Handbook of Avian Body Masses, 2nd Edition. CRC Press.
      2. MacKinnon dkk. 2010. Burung-burung di Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan. LIPI.