logo

logo

Rekam Jejak Wallacea: The Kingdom of Butterfly



Siapa yang tidak kenal dengan Alfred Russel Wallacea, seorang naturalis yang membagi wilayah Indonesia menjadi tiga berdasarkan tipe flora dan faunanya, yakni wilayah oriental yang meliputi Sumatra, Kalimantan, dan Jawa; Wilayah Australia yang meliputi Papua; dan wilayah Peralihan yakni Sulawesi, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, Halmahera, Buru, Seram, dan pulau-pulau kecil lainnya. Keunikan Pulau Sulawesi ini adalah banyak ditemukan flora fauna peralihan antara wilayah Oriental dan Australia dan juga banyaknya spesies endemik baik flora maupun faunanya. Salah satu spesies yang kita buru dalam ekspedisi kali ini adalah kupu-kupu endemik Sulawesi. Wallacea sendiri telah menemukan bahwa di Taman Nasional Bantimurung ada sekitar 250 spesies. Sementara menurut data dari Taman Nasional Bantimurung pada tahun 2011 telah berhasil mengidentifikasi sekitar 225 spesies. Tak heran jika tempat ini dijuluki sebagai kerajaan kupu-kupu (The Kingdom of Butterfly)

Well, cukuplah pendahuluannya. Edisi perjalan yang Saya lakukan di Pulau ini di awali dengan jalan-jalan dahulu di Kota Makassar sambil menunggu teman yang masih di Yogyakarta yang juga terlibat dalam ekspedisi kali ini. Sembari menikmati sunset di Pantai Losari dengan suguhan jajanan khas yakni Pisang Epe yang ditaburi keju dan gula merah yang lumer, Saya menghabiskan waktu sambil mencari referensi wisata yang ada di Sulawesi. Perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan sebelumnya karena perjalan ini bertepatan dengan bulan Ramadhan yang membutuhkan kondisi stamina ektra fit tanpa harus membatalkan puasa.

Akhirnya hari ekspedisi dimulai. Kru dalam perjalan ini terdiri dari empat orang dengan menggunakan dua motor. Semua perlengkapan mulai dari logistik, sleeping bed, jaring kupu-kupu, GPS, dokumentasi  hingga perlengkapan perawatan kulit, hehehe… Sebelum berangkat ke lokasi, kita melakukan survey ke Taman Nasional Bantimurung yang ada di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan untuk mengetahui keberadaan kupu-kupu yang kita cari, yakni Papilio blumei. Kupu-kupu ini termasuk hewan endemik di Sulawesi Selatan dan menjadi ikon di gerbang pintu masuk Taman Nasional Bantimurung.

Informasi yang kami peroleh bahwa kupu-kupu ini sudah tidak ditemukan lagi di Taman Nasional Bantimurung. Ckckck… Taman Nasional seluas ± 43.750 Hektar ini tidak dijumpai kupu-kupu yang dianggap sebagai ikonnya. Bahkan di penangkaran Taman Nasional ini pun tidak dijumpai kupu-kupu endemik ini. Kupu-kupu ini kurang diminati dalam penelitian karena sulit dalam proses penangkaran serta keberadaanya. Banyak peneliti yang mengundurkan diri dan putus asa setelah mengetahui kupu-kupu ini sangat sulit untuk diperoleh datanya. Sepertinya kita harus bergidik menerima kenyataan bahwa kita berburu satwa yang masuk dalam kategori langkah ini. Akhirnya kita harus ke hutan yang tidak masuk dalam kawasan Taman Nasional untuk menemukan makhluk cantik ini sesuai dengan petunjuk dari pihak Taman Nasional.

Jarak wilayah yang kami tempuh sekitar lebih dari 80 km dari kota Makassar, tepatnya di Kecamatan Cenrana yang masih berada di kabupaten Maros. Sekitar pukul 20.00 WITA kami sampai di desa Laiya dan meminta izin ke kepala desa setempat. Setelah dapat izin, kami diarahkan ke sebuah dusun dengan jarak sekitar 5 km dan disana kepala dusun sudah dihubungi akan kedatangan kami. Dengan berbekal motor seadanya kami berjalan melewati jalan bebatuan ditemani penerangan bohlam lampu 5 watt dari teras rumah penduduk dan lampu motor. Kesulitan medan pun dimulai. Medan mulai dalam keadaan menanjak dan berbatu. Kami harus ektra hati-hati mengingat satu-satunya penerangan hanyalah lampu motor. Bulan masih dalam bentuk sabit sehingga kurang dapat diandalkan untuk penerangan. Satunya-satunya navigasi arah adalah capit dari rasi bintang Scorpio pada malam itu. Sesekali gongongan anjing menyalak panjang mirip serigala parau ketika kami lewat. Untung cuma anjing kampung penakut yang kami jumpai, alih-alih salah satu teman kami yang takut.

Kami tidak tahu sebelah jalan yang kita lewati itu jurang atau bukan. Sudah dua atau tiga sungai kecil tanpa jembatan yang kita lewati dan motor kami rasanya minta protes menempuh perjalan kali ini. Dari kejahuan nampak pelita-pelita dari minyak mulai terlihat samar. Akhirnya kami lega, namun ups… tiba-tiba motor meluncur turun dan di depan mengangah sebuah jurang. Hosh… untung saja refleks kaki mengerem seketika. Kami salah ambil jalan.

Lelah, tegang, capek, dan seru setelah kami tiba di rumah kepala dusun. Rumah panggung khas Suku Bugis dengan penerangan pelita minyak tak cukup menunjukkan raut kelelahan kami. Maklum di dusun ini tidak ada instalasi PLN. Penduduk hanya mengandalakan listrik dari turbin yang kebetulan rusak. Cukup sudah nuansa pedalamannya kali ini. Berada di rumah panggung sederhana, tidak ada listrik, suhu yang dingin, dan hanya ditemani konstelasi bintang dengan latar belakang kabut milky way. Kepala dusun dan istrinya akhirnya menyambut dan menerima kami meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WITA. Kami agak sungkan karena terlalu larut untuk bertamu. Usai perkenalan dan menceritakan perjalanan serta tujuan ke tempat ini, kami istirahat untuk ekspedisi esok hari.


Pukul 3.00 kami semua bangun dan makan sahur. Rasanya tidur kami kurang, tapi kami tetap harus sahur agar tetap bisa melaksanakan ibadah puasa meskipun kami dalam keadaan ekspedisi. Sahur kali ini berbeda dengan sahur seperti biasanya. Dengan ditemani temarang lampu kami semua makan dengan menu sederhana dengan lauk ikan kering yang bentuknya tak dapat didefinisikan, maklum remang-remang, serta ditambah dengan kuah mie instan. Sederhana namun berkesan.


Mentari mulai merekah, pesona panorama mulai terlihat keindahannya. Persiapan perjalan menuju hutan pun dimulai. Alat GPS menunjukkan koordinat tempat ini adalah 5°02’29.90’’ LS dan 119°47’24.68’’ BT dengan ketinggian lebih dari 500 meter. Kali ini kepala dusun yang menjadi guide dalam ekspedisi kali ini. Perjalanan diawali dengan melewati pematang sungai dengan keelokan bulir padi siap panen yang dikelilingi pengunungan karst. Arakan awan putih lembut sesekali menghiasi birunya langit yang membentuk kontur dinamis. Perjalanan masuk hutan pun tiba setelah berjalanan hampir dua jam, entah berapa kilometer jarak yang kami tempuh. Gemericik aliran air jernih dari sumber mata air yang masih bersih menyejukkan setiap langkah kami. Akhirnya kami menemukan pohon endemik Sulawesi yakni pohon Sangilu (Euodia hupehensis) dari famili Rutaceae. Pohon ini cukup tinggi, sekitar 7-10 meter. Sangilu merupakan tanaman inang bagi kupu-kupu Papilio blumei. Tanpa pohon ini, keberadaan P. blumei akan terancam. Dekat pohon sangilu ini kami membuat jebakan dengan menggunakan kertas warna biru dan jaring diletakkan dekat jebakan tersebut.

Papilio blumei

Pohon Sangilu

Setelah menunggu sekitar satu jam akhirnya nampak kupu-kupu P. blumei terbang rendah dengan koreografi indah dengan perpaduan warna hitam dan biru muda pada kulit eksoskeletonnya. Dengan hati-hati kami berusaha diam memaku dan tiba saatnya kupu-kupu mendekat akhirnya dan kami berhasil menangkap satu ekor. Senang rasanya bisa menemukan dan menangkap satwa endemik ini. Akhirnya kami berhasil menangkap tiga ekor kupu-kupu dan yakni dua ekor Papilio blumei dan seekor Troides hypolitus.

Papilio blumei (kiri) dan Troides hypolitus (kanan)

Hutan masih terasa sepi meskipun siang terik sudah menyengat. Kanopi pepohonanlah sebagai tempat peneduh kami semua. Jika tidak dalam puasa kami berencana lebih masuk ke dalam hutan untuk mencari mamalia endemik Sulawesi, yakni Anoa. Well, namun apa daya hutan ini masih terlalu luas. Meskipun hutan Sulawesi tidak dijumpai harimau atau beruang, namun yang perlu diwaspadai adalah ular piton yang sering mengintai. Untuk melepas dahaga puasa, kami semua akhirnya menikmati mandi dekat sumber mata air yang jernih dan rasanya benar-benar segar. Segala kepenatan dan kecapekan hanyut melalui aliran sungai dalam hutan. Lepas... Bebas...


Subscribe to receive free email updates: