logo

logo

Temuan Baru: Satu Genus dan Dua Spesies Baru Kodok dari Sumatra

Gabungan para ahli herpetologi dari Indonesia, Amerika Serikat, dan Jerman telah menemukan kodok baru. Temuan tersebut dilakukan saat melakukan inventarisasi herpetofauna di dataran tinggi Sumatra. Pada saat kegiatan tersebut, terdapat temuan dua kodok berbeda yang belum teridentifikasi yang berasal dari Gunung Sorikmarapi, Sumatera Utara dan Gunung Kunyit, Jambi.

Para peneliti kmudian melakukan diagnosa morfologi, uji genetik, dan pola rekaman suara. Dari hasil analisis yang diperoleh, kedua kodok tersebut bukan hanya spesies baru tetapi juga genus baru. Penemuan tersebut menambah daftar koleksi biodiversitas di Indonesia mengenai herpetofauna. Nama genus yang diberikan dalam temuan tersebut yakni Sigalegalephrynus. Secara etimologi, nama genus diambil dari kata “Sigale gale” yang merupakan boneka kayu dari Suku Batak sedangkan akhiran “phrynos” berasal dari Bahasa Yunani yang dilatinkan yang artinya maskulin. Secara umum, karakter morfologi dari genus Sigalegalephrynus memiliki ukuran yang lebih besar untuk kategori kodok arboreal di daerah Sumatra, namun memiliki ukuran medium untuk anggota Bufonidae, tungkai kurus, memiliki kulit berwarna kayu-coklat, serta memiliki kebiasaan tinggal di tempat tersembunyi.

kodok baru, spesies baru kodok, kodok jenis baru
Gambar 1Sigalegalephrynus mandailinguensis.
Gambar 2. Sigalegalephrynus minangkabauensis.

Setelah pemberian nama genus, kedua kodok tersebut kemudian diberi nama Sigalegalephrynus mandailinguensis dan Sigalegalephrynus minangkabauensis (Gambar 1 dan 2). Lokasi penemuan S. mandailinguensis di Gunung Sorikmarapi, Kecamatan Panyabungan Selatan, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara sedangkan S. minangkabauensis ditemukan di Gunung Kunyit, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi (Gambar 3).

Gambar 3. Lokasi penemuan genus Sigalegalephrynus.

Sigalegalephrynus mandailinguensis

Karakter morfologi dari spesies S. mandailinguensis yakni (1) memiliki ukuran medium (jantan 30,6 – 38 mm SVL/diukur dari moncong hingga lubang kloaka), ramping dan tidak memiliki kelenjar parotoid. (2) tympanum terlihat. (3) Nares lebih dekat ke ujung moncong daripada mata. (4) Jari tumpul dan melebar (Gambar 4). (5) ujung jari kaki tumpul namun tidak melebar. (6) Pada selaput tungkai depan mengalami rudimenter sedangkan pada tungkai belakang selaputnya sedang. (7) Warna tubuh bagian atas terdiri dari putih dan coklat dengan garis tipis dari ujung moncong hingga ke belakang. (8) Permukaan dorsal memiliki tonjolan sedang. (9) Permukaan perut memiliki tonjolan seragam dengan ukuran kecil, bulat dan halus.

Sigalegalephrynus minangkabauensis

Karakter morfologi dari spesies S. minangkabauensis (1) Ukuran kecil (19.32 mm SVL/diukur dari moncong hingga lubang kloaka), ramping dan tidak memiliki kelenjar parotoid. (2) Jari I dan II membulat dan tidak melebar. (3) Jari III dan IV membulat dan melebar (Gambar 4). (4) Ujung jari kaki membulat dan tidak melebar. (5) Selaput kaki depan rudimenter dan sedang pada kaki belakang. (6) Bagian dorsal memiliki warna kehijauan-coklat dengan bagian tengah dorsal terdapat garis-garis memanjang dari ujung moncong hingga belakang. (7) Perut bagian samping memiliki motif coretan warna coklat gelap yang membentang dari ujung posterior bagian orbital hingga bagiang inguinalis. (8) permukaan dorsal cukup banyak tonjolan. (9) Permukaan ventral halus dengan bintik-bintik hitam yang tersebar.

Gambar 4. Permukaan tungkai depan dan belakang
(A) Sigalegalephrynus mandailinguensis dan
(B) Sigalegalephrynus minangkabauensis


Filogenetik Sigalegalephrynus
Selain menggunakan karakter morfologi, analisis molekular juga dilakukan untuk analisis takson tersebut. Gen yang digunakan dalam analisis molekular tersebut yakni 2 gen dari mitokondria (12S dan 16S) serta 2 gen dari inti sel (NCX1 dan CXCR4). Penggunaan lokus tersebut didasarkan pada penelitian sebelumnya yang sudah melakukan screening terhadap gen tersebut pada anggota Bufonidae.

Setelah dilakukan sekuensing DNA, kemudian dilakukan analisis filogeni dengan menggunakan metode maximum-likelihood (ML). Dari hasil analisis tersebut, kedua spesies baru tersebut membentuk clade tersendiri (Gambar 5)

Gambar 5. Filogeni kodok di Paparan Sunda dengan menggunakan
kombinasi data molekular DNA mitokondria dan DNA inti.



Referensi:
Utpal Smart, Goutam C. Sarker, Umilaela Arifin, Michael B. Harvey, Irvan Sidik, Amir Hamidy, Nia Kurniawan, and Eric N. Smith. 2017. A New Genus and Two New Species of Arboreal Toads from the Highlands of Sumatra with a Phylogeny of Sundaland Toad Genera. Herpetologica, 73(1):63-75. DOI: http://dx.doi.org/10.1655/Herpetologica-D-16-00041

Subscribe to receive free email updates: