logo

logo

Biologi dan Klasifikasi Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)

Image result for lutung jawa

Lutung Jawa atau Langur Jawa (Trachypithecus auratus) merupakan jenis lutung endemik Indonesia yang memiliki rambut hitam legam. Di kalangan orang Sunda, hewan ini dikenal dengan nama lutung, sedangkan orang Jawa biasa menyebut hewan ini sebagai lutung budeng. Berikut adalah klasifikasi dari Lutung Jawa.

Kingdom : Animalia
_Filum : Chordata
__Subfilum : Vertebrata
___Kelas : Mammalia
____Ordo : Primata
_____Famili : Cercopithecidae
______Genus : Trachypithecus
_______Spesies : Trachypithecus auratus

Spesies ini tersebar di pulau Jawa serta kepulauan kecil Bali, Lombok, Palau Sempu, dan Nusa Barung. Populasi lutung di Lombok diperkirakan merupakan hasil introduksi manusia. Terdapat dua subspesies dari Trachypithecus auratus, yaitu :
  1. Trachypithecus auratus auratus, ditemukan pada pulau Jawa bagian timur, Bali, Palau Sempu, dan Nusa Barung
  2. Trachypithecus auratus mauritius, terdistribusi di pulau Jawa bagian barat.


Berdasarkan list IUCN, hewan ini dikategorikan rentan (vulnerable) karena jumlahnya yang terus menurun akibat penjualan dan perburuan hewan ilegal serta habitat yang terus berkurang.

Lutung dewasa mempunyai panjang tubuh dari ujung kepala hingga tungging sekitar 517 mm. Panjang ekornya rata-rata 742 mm, sedangkan berat tubuhnya rata-rata 6,3 kg. Lutung memiliki rambut berwarna hitam diselingi warna keperakan. Bagian ventral berwarna kelabu pucat dan pada kepala terdapat jambul. Bayi lutung yang baru lahir berwarna kuning jingga dan tidak berjambul, namun seiring bertambah dewasa rambutnya akan berubah menjadi hitam kelabu. Umumnya lutung dapat hidup hingga umur 20 tahun.

Trachypithecus auratus ditemukan pada berbagai tipe hutan, baik di daerah mangrove, pantai, rawa air tawar, hutan dataran rendah, hutan desidua, maupun hutan pegunungan hingga ketinggian 3500 meter. Makanan utama lutung adalah daun dan bunga. Hewan ini juga memakan buah matang maupun belum matang dan larva insekta. Lutung lebih menyukai daun yang kaya akan protein dan rendah serat. Menurut beberapa penelitian, lutung memakan lebih dari 66 jenis tumbuhan yang berbeda. Komposisi makanannya 50 % berupa daun, 32 % buah, 13 % bunga, dan sisanya bagian tumbuhan lain atau serangga.

Lutung termasuk hewan arboreal dan diurnal, menghabiskan sebagian besar waktunya di pohon dan aktif pada siang hari. Lutung hidup berkelompok dengan jumlah anggota kelompok 6-23 ekor. Terdapat 1-2 jantan dengan satu jantan sebagai pimpinan kelompok dan beberapa betina serta anak-anak yang masih dalam asuhan induknya. Ukuran kelompok dapat bervariasi tergantung pada kondisi iklim. Pada daerah dengan musim kering yang panjang, lutung biasa membuat kelompok dengan ukuran besar.

Jantan alpha mendominasi anggota kelompok dalam hal perlindungan, pengamanan saat melakukan pergerakan, dan perawatan anggota kelompok. Umumnya jantan mengeluarkan suara, melakukan gertakan dengan suara, serta membuat mimik yang menunjukkan sikap agresif. Suara yang dikeluarkan bergetar dan patah-patah, terdengar seperti “ghek-ghok-ghek-ghok”. Dalam kelompok jumlah betina lebih banyak karena adanya kompetisi antar jantan dan sistem perkawinan poligami. Betina merawat dan melindungi anaknya serta anak dari betina kelompoknya, namun akan bersikap agresif bila bertemu betina kelompok lain.

Dalam melakukan pergerakan, lutung lebih sering meloncat saat berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Meskipun lebih sering bergerak menggunakan kedua anggota gerak depan, lutung terkadang berjalan dengan keempat anggota geraknya saat berada di cabang pohon yang besar atau di tanah. Daerah jelajah lutung berkisar antara 15-23 hektar dengan pergerakan harian sekitar 500-1300 meter.

_______
Penulis: Nisaa Adn’ain 

Referensi:
Supriatna, Jatna & Edy Hendras W. 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Subscribe to receive free email updates: