logo

logo

Konservasi Trigona spp. sebagai Polinator Lokal Unggul dan Bernilai Ekonomi Tinggi

Serangga polinator (penyerbuk) merupakan organisme yang menyediakan jasa ekosistem dan mempunyai peran penting di dalam ekosistem. Kevan (1999) melaporkan bahwa serangga penyerbuk sebagai faktor utama yang menentukan produksi pertanian. Keberadaan serangga penyerbuk mempengaruhi ketersediaan pangan bagi penduduk di dunia (Kearns et al. 1998). Nilai ekonomi polinasi di seluruh dunia mencapai Rp. 2.470 triliun (153 milyar Euro)/tahun, atau setara dengan 9.5 % nilai produksi pertanian untuk mencukupi kebutuhan makan manusia di tahun 2005. Di Amerika, lebah membantu penyerbukan lebih dari 130 spesies tanaman pertanian dengan nilai ekonomi mencapai 147.3 triliyun rupiah/tahun (Gallai et al. 2009).

Apituley et al. (2012) menyatakan bahwa kehadiran serangga penyerbuk pada tanaman dapat membantu proses penyerbukan silang dan dapat meningkatkan produksi tanaman. Serangga penyerbuk secara umum mengunjungi bunga karena adanya faktor penarik, yaitu bentuk bunga, warna bunga, serbuk sari, nektar dan aroma, serta dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Contoh serangga penyerbuk yang berperan penting dalam penyerbukan adalah lebah. Lebah mempunyai beberapa sifat penting, yaitu pada saat mengumpulkan serbuksari, lebah menyisir benangsari dengan tungkainya, selanjutnya serbuksari dikumpulkan ke dalam pollen basket (Schoonhoven et al. 1998).

Gambar 1. Koloni lebah Trigona spp. a.) kasta ratu (queen), b.) pejantan (drone), dan c.) pekerja (worker)

Lebah Trigona spp. merupakan serangga yang hidup berkelompok dan membentuk koloni. Lebah jenis Trigona termasuk golongan stingless bee yaitu golongan lebah yang tidak memiliki sengat. Distribusi lebah ini meliputi daerah tropis dan subtropis seperti wilayah Amerika Selatan, Afrika Selatan dan Asia Tenggara. Klasifikasi lebah Trigona spp. yakni kingdom Animalia, filum Arthropoda, kelas insecta, ordo Hymenoptera, famili Apidae, genus Trigona dan spesies Trigona sp., ada beberapa jenis Trigona di Indonesia diantaranya T. laeviceps, T. apikalis, T. minangkabau, T. itama, dan sebagainya sedangkan distribusi Trigona di Indonesia sangat beraneka ragam. 

Siregar (2014) melaporkan bahwa di pulau Sumatra sedikitnya tercatat 31 jenis, Kalimantan 40 jenis, Jawa 14 jenis, Sulawesi ada tiga jenis. Setiap koloninya terdiri atas 300 – 80.000 ribu ekor. Jumlah madu yang dihasilkan jenis Trigona lebih sedikit dibandingkan lebah penghasil madu jenis Apis dan lebih sulit dipanen dari sarangnya, namun jumlah propolisnya lebih banyak dibandingkan dengan lebah jenis lain.

Menurut Siregar (2014) spesies polinator yang paling banyak ditemukan di kebun sawit adalah Trigona. Spesies Trigona yang ditemukan pada penelitian ini telah dilaporkan sebelumnya terdapat di Sumatera Tengah, kecuali Trigona sp. (aff=T. planifrons). Trigona sp. (aff=T. planifrons) ditemukan dominan di kebun sawit. Selain itu, sarang Trigona juga ditemukan di pinggiran kebun sawit yang berbatasan langsung dengan hutan-karet dan di hutan-karet. Liow et al. (2001) melaporkan kelimpahan Trigona meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah pohon yang besar (diameter 30cm-40cm). Kelimpahan bunga yang tinggi di kebun sawit mampu menarik Trigona untuk datang mencari pakannya. Dalam hal ini, hutan-karet dijadikan sebagai lokasi untuk bersarang dan kebun sawit sebagai salah satu lokasi pencarian pakannya.

Trigona spp. merupakan salah satu serangga penyerbuk dari famili Apidae yang lebih dikenal sebagai lebah penghasil madu. Trigona spp. merupakan plasma nutfah Indonesia yang berpotensi sebagai agen polinator pada tanaman khususnya tanaman budidaya seperti yang telah dijelaskan di atas. Di Indonesia keberadaan dari koloni lebah ini sebenarnya sudah tidak asing lagi. Koloni lebah Trigona spp. atau yang sering disebut klanceng, lenceng (Jawa) atau teuweul (Sunda) biasanya hidup di dalam bambu-bambu penyangga genteng rumah, saung, maupun beberapa furnitur yang terbuat dari bambu.

Gambar 2. Koloni lebah madu Trigona spp. yang hidup di a.) bambu kursi, b.)
kandang ayam, c.) bambu saung, dan d.) bambu penyangga genteng rumah.

Karakteristik lebah Trigona spp. yang berukuran lebih kecil dan jangkauan terbang pendek, membuat koloni ini fokus pada pepohonan di sekitar sarang sehingga polinasi yang dilakukannya lebih intensif dibanding lebah Apis yang jangkauan terbangnya lebih jauh. Selain itu karakteristik lebah Trigona spp. lebih ramah kepada manusia dibanding dengan Apis, sehingga lebih mudah memelihara Trigona dibandingkan Apis. Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa tingkat kepraktisan lebah Trigona spp. lebih tinggi untuk dibudidayakan dibanding dengan lebah Apis.

Tabel 1  Perbandingan antara Apis dengan Trigona sebagai polinator

Komparasi
Apis
Trigona
Harga koloni
Mahal (2,500-10,000 Peso
Filipina)
Terjangkau (1,500-2,500 Peso Filipina)
Sengat
Menyengat, sehingga membutuhkan penanganan yang khusus
Tidak menyengat sehingga siapapun dapat menanganinya
Jumlah lebah pekerja
Maksimum 60.000/sarang
Maksimum 100.000/sarang
Masa hidup
Lebih singkat
(50  hari/pekerja )
Lebih panjang (60 hari/pekerja)
Tingkah laku
Kemungkinan kabur dari sarang sangat tinggi, terutama A. dorsata dan A. cerana
Kemungkinan kabur dari
sarang sangat kecil
Jangkauan terbang
Mencapai lebih dari 5 km, artinya polinasi menyebar
Pendek, hanya radius 500 meter sehingga polinasi lebih intensif dan merata di sekitar sarang
Pakan utama
Pekerja pencari pakan lebih fokus pada nektar
Pekerja pencari pakan terutama pada polen karena lidah terlalu pendek untuk mendapatkan nektar
Persediaan makanan
Membutuhkan, yaitu air gula dan polen buatan
selama masa paceklik
Tidak membutuhkan, karena Trigona menyimpan cadangan polen sepanjang tahun
Daya tahan terhadap hama
Rendah
Tinggi, karena ukurannya yang jauh lebih kecil, dan memiliki persediaan propolis yang tinggi dalam sarang sebagai pelindung alami.
Daya tahan terhadap cuaca
Sangat rendah
Lebih tinggi karena memiliki propolis sebagai kanopi


Putra dan Kinasih (2014) menyebutkan bahwa polinator lokal T. iridipnenis dan A. cerana dapat digunakan sebagai polinator alternatif yang dapat membantu peningkatan produksi hasil pada pertanaman tomat. Semua jenis tanaman berbunga yang megandung nektar dapat dimanfaatkan sebagi sumber pakan lebah (Sarwono 2001). Sumber pakan Trigona spp. yang telah diteliti menunjukkan bahwa koloni ini dapat dimanfaatkan sebagai polinator unggul terutama pada tanaman budidaya yang ada di Indonesia. Sumber pakan Trigona spp. diantaranya bunga-bungaan dari tanaman damar, nangka, cemara, meranti, manggis, kenari, pala, kaliandra, lamtoro, lengkeng, dan sebagainya.

Produk dari lebah madu Trigona spp. yang dapat dimanfaatkan untuk menambah nilai hasil ekonomi dari perlebahan adalah propolis, madu, dan bee pollen (Sihombing 2005). Propolis merupakan resin lengket yang dikumpulkan oleh lebah dari kuncup bunga, kulit kayu, dan dari bagian lain tumbuhan lain (Gojmerac 1983) sekaligus diketahui produk alami lebah yang menunjukkan efek antimikroba (Dharmayanti 2000). Lebah madu memerlukan propolis karena lebah madu rentan terhadap infeksi bakteri dan virus (Chinthalapally dan Valhalla 1993). 

Trigona jarang dibudidayakan karena madu yang dihasilkan lebih sedikit namun propolis yang dihasilkan jauh lebih banyak daripada Apis spp. Lebah madu Trigona spp. menghasilkan jumlah madu yang sedikit bila dibandingkan dengan lebah Apis spp. Sarang lebah Trigona spp. menghasilkan madu kurang lebih 1 kg/tahun sedangkan Apis spp. menghasilkan madu mencapai 75 kg/tahun. madu yang dihasilkan Trigona spp. mempunyai aroma khusus, campuran rasa manis dan asam seperti lemon.

Penulis: Mahardika Gama Pradana

Referensi:
  1. Apituley FL, Leksono AS, Yanuwiadi B. 2012. Kajian Komposisi Serangga Serangga penyerbuk Tanaman Apel (Malus Sylvestris Mill) Di Desa Poncokusumo Kabupaten Malang. Kajian Komposisi Serangga. Hlm 85-96.
  2. Chinthapally, V. & Rao Valhalla NY. 1993. Propolis. Medical Journal 53:1482.
  3. Fatoni A. 2008.Pengaruh propolis Trigona spp asal Bukittinggi terhadap beberapa bakteri usus halus sapi dan penelusuran komponen aktifnya [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
  4. Gallai N, Salles JM, Settele J, Vaissière BE. 2009. Economic valuation of the vulnerability of world agriculture confronted with pollinator decline.Ecological economics. 68(3):810-821.
  5. Gojmerac, W. L. 1983. Bee, Bee keeping, Honey and Pollination. Avi, Westport.
  6. Kevan PG. 1999. Pollinators as bioindicators of the state of the environment: species, activity and diversity. Agriculture Ecosystems and Environment.74:373-393.
  7. Kearns CA, Inouye DW, Waser NM. 1998. Endangered mutualisms: the conservation of plant pollinator interactions. Annual Review of Ecology andSystematics. 29:83-112.
  8. Liow LH, Sodhi NS, Elmqvist T. 2001. Bee diversity along a disturbance gradient in tropical lowland forests of south-east Asia. J Appl Ecol. 38: 180-192.
  9. Sarwono, B. 2001. Lebah Madu. Agro Media Pustaka, Jakarta.
  10. Schoonhoven LM, van Loon JJA, Dicke M. 2005. Insect-Plant Biology. Second edition. New York (US): Oxford Univ Pr.
  11. Sihombing, D. T. H. 2005. Ilmu Ternak Lebah Madu. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
  12. Siregar EH. 2014. Keanekaragaman dan Kelimpahan Serangga Polinator pada Tipe Penggunaan Lahan Berbeda di Jambi, Sumatera [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.


Subscribe to receive free email updates: