Botani, Deskripsi dan Klasifikasi Kabau (Archidendron bubalinum)




Kabau (Archidendron bubalinum (Jack) I.C. Nielsen) merupakan kerabat dekat jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen). Secara alami jenis ini tumbuh di Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya, dan Sumatera (Nielsen 1992; GBIF 2016). 

Kabau memiliki nama lokal berbeda-beda, misalnya kabau (Jambi, Palembang, Riau, Sumatera Barat), jering utan (Riau), kabeu (Bengkulu), jering kabau (Sumatera Barat), julang-jaling (Lampung), buah pelong, keredas, keredas padi, keredas antan atau jering tupai (Malaysia), kue-da, ka-nua, yi-ring buu-kong, dan nieng-nok (Thailand) (Heyne 1927; Nielsen 1992; Hanum 1998; Lim 2012; Ghazalli et al. 2014).

Jenis Archidendron bubalinum pertama kali dipertelakan sebagai Inga bubalina Jack pada tahun 1822, berdasarkan material yang dikoleksi dari Sumatera. Penunjuk jenis A. bubalinum berasal dari nama lokal bua karbau atau kabau (bua=buah, karbau/kabau=kerbau=buffalo=Bubalus) (Kostermans 1954). 

Pada tahun 1844, Bentham menempatkan jenis ini sebagai varietas dengan nama Pithecellobium bigeminum (L.) Mart. var. bubalinum (Jack) Benth. Kemudian pada tahun 1875 Bentham berubah pendapat dan mempublikasikannya lagi menjadi Pithecellobium bubalinum (Jack) Benth. Kuntze pada tahun 1891 mengklasifikasikan jenis ini sebagai Feuilleea bubalina (Jack) O. Kuntze. Kostermans pernah memasukkan jenis ini ke dalam dua marga yang berbeda, yaitu Cylindrokelupha bubalina (Jack) Kosterm pada tahun 1954 dan Ortholobium bubalinum (Jack) Kosterm pada tahun 1956 (Nielsen 1992). Nama-nama tersebut kemudian dijadikan sebagai sinonim dari jenis Archidendron bubalinum (Jack) I.C. Nielsen.

Archidendron bubalinum tersebar secara alami di Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Sumatera (Nielsen 1992; GBIF 2016). Jenis ini dapat ditemukan pada hutan hujan tropis primer dan sekunder, pada kondisi tanah lempung berpasir atau laterit hingga ketinggian 600 mdpl pada kawasan dengan intensitas cahaya yang tinggi atau kawasan terbuka. Secara umum, jenis ini berbunga dan berbuah pada Januari hingga Oktober (Nielsen 1992).


Deskripsi Archidendron bubalinum

Perawakan pohon; batang tegak, 10-20 m, diameter 20-30 cm, tidak berduri. Kulit batang coklat terang, ranting menggalah, permukaan gundul atau berbulu balig. Daun majemuk menyirip genap, berseling atau berseling spiral; tangkai daun 1-4 cm, tidak bersayap, gundul hingga berbulu balig halus; kelenjar tangkai di lipatan rakila daun atau 1-2 cm di bawah lipatan rakila daun, membundar atau melonjong, rata atau menonjol; rakila daun satu pasang, 2-14 cm, berwarna merah keunguan atau hijau saat muda, gundul atau berbulu balig halus; tangkai anak daun 4-5 mm, gundul; helaian anak daun 1-3 pasang per rakila, berhadapan, ungu gelap kemerahan atau hijau saat muda, helaian anak daun membundar telur, membundar telur sungsang, membundar telur lanset, atau menjorong, pangkal membaji, ujung melancip berekor atau tidak berekor, tepi rata, permukaan atas hijau mengkilap atau kusam, permukaan bawah kusam. Perbungaan terminal atau aksilar dekat pangkal tangkai daun, tersusun dalam perbungaan gundung majemuk bergantilan. Bunga berbilangan 5, harum, biseksual; gagang bunga 5-10 cm, berbulu balig halus; kelopak menggenta hingga mencorong, panjang 1-1.5 mm, hijau terang, berbulu balig halus, bergigi 5, gigi menyegitiga, luas 0.5 mm; mahkota mencorong, 3-5 mm, putih kekuningan, berbulu balig halus, bercuping 5, 2 mm, membundar telur, ujung melancip; tabung benang sari sama panjang dengan tabung mahkota; benang sari ±48 ̶ 50, 15 mm; putik satu, tangkai putik 15 mm; bakal buah menumpang, gundul. Polong silinder atau pipih, lurus atau sedikit melengkung, panjang 4-8 cm, diameter 1.3-3 cm, hijau di luar, coklat kemerahan di dalam, gundul hingga berbulu balig, tebal kulit buah 1 ̶ 3.5 mm, merekah di sepanjang kedua kampuh saat tua. Biji rapat di dalam polong, 1-9, diameter 0.8 ̶ 2.5 cm, tebal biji tengah 0.5 ̶ 1.5 cm, berbentuk seperti cakram, irisan melintang biji membundar atau memipih, biji ujung 1.5 cm, menggasing rompong; kulit biji merah kehitaman, tipis.

Penulis: Dewi Komariah, M. Si.

Referensi:
  1. GBIF - Global Biodiversity Information Facility. 2016. Archidendron bubalinum (Jack) I.C. Nielsen.
  2. Ghazalli MN, H Masrom, Y Omar, S Aishah-Farhana. 2014. A preliminary flora survey in Gunung Kajang, Pulau Tioman, Pahang Darul Makmur, Malaysia. Malaysian Applied Biology 43(2):17-23.
  3. Hanum IF. 1998. Archidendron F. Muell. Di dalam: Sosef MSM, Hong LT, Prawirohatmodjo S, editor. Plant Resources of South-East Asia No 5(3): Timber trees: Lesser-known timbers. Bogor (ID):Prosea.
  4. Heyne K. 1927. De Nuttige Planten van Nederlandsch Indie. Buitenzorg (ID). Diterjemahkan oleh Badan Litbang Departemen Kehutanan 1987 menjadi Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta (ID): Yayasan Sarana Wana Jaya.
  5. Lim TK. 2012. Edible Medicinal and Non-Medicinal Plants.Volume2. Fruits New York (US): Springer.
  6. Nielsen IC. 1992. Mimosaceae (Leguminosae-Mimosoideae). Flora Malesiana. Series I Vol. 11(1). Leiden (NL): Flora Malesiana Foundation.



Bagikan Ilmu